Listrik Sering Byar-Pet, Pemda Sulawesi Minta Jokowi Bangun PLTN

Listrik Sering Byar-Pet, Pemda Sulawesi Minta Jokowi Bangun PLTN

- detikFinance
Jumat, 15 Mei 2015 15:10 WIB
Listrik Sering Byar-Pet, Pemda Sulawesi Minta Jokowi Bangun PLTN
Foto: AFP
Jakarta - Masyarakat di Sulawesi masih mengalami kekurangan pasokan listrik, hal ini membuat Pemerintah Daerah di Sulawesi mendesak agar pemerintah pusat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Kekurangan listrik Sulawesi kan sangat besar. Memang yang paling efisien dan realisastis (pemenuhan listrik) di Sulawesi itu dibangun PLTN," kata Sekretaris Jenderal Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) Aminuddin Ilmar, ditemui di Indonesia Infrastucture Investment 2015, di JIExpo Kepamyoran, Jumat (15/5/2015).

BKPRS sendiri merupakan forum pembangunan ekonomi seluruh pemerintah daerah seluruh Sulawesi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aminuddin mengatakan, ada beberapa pertimbangan mengapa Pemda Sulawesi ingin pembangunan PLTN dibangun di Sulawesi. Pertama, dari penelitian yang sudah dilakukan, Sulawesi merupakan wilayah dengan potensi kandungan uranium paling banyak di Indonesia.

"Kandungan uranium di Sulawesi kan paling besar, baru-baru ini juga ditemukan kandungan Uranium baru di Kabupaten Mamuju," ungkap Aminuddin.

Kedua, adalah kebutuhan pasokan listrik yang mendesak di semua provinsi di Sulawesi. "Listrik di semua Sulawesi ini kurang. Paling kekurangan di Sulawesi Barat dan Gorontalo. Apalagi pas beban puncak, untuk kebutuhan domestik rumah tangga saja kurang, apalagi untuk menunjang listrik industri. Pemadaman intensitasnya kalau rata-rata di Sulawesi saat ini 2-4 jam sehari," jelasnya.

Aminuddin menambahkan, sebenarnya Sulawesi juga memiliki potensi pembangkit hidro yang besar. Kendati demikian, perkembanganya juga masih jalan di tempat yang disebabkan keterbatasan pendanaan.

"Baru dua PLTA yang dibangun, satu PLTA Poso dengan kapasitas 2 x 300 MW, kemudian PLTA Simbuang di Poso dengan kapasitas 2 x 150 MW," ujar Aminuddin yang juga guru besar Universitas Hasnuddin ini.

Dua PLTA tersebut, sambungnya, hanya cukup untuk menutupi defisit listrik di sektor rumah tangga. "Listrik (rumah tangga) dengan PLTA baru aman sampai 2019," jelasnya.

Sementara, untuk sektor industri, perlu terobosan besar untuk memasok kebutuhan indutri.
Β 
"Solusi paling efisien yang nuklir," tutupnya.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads