Bahkan perusahaan yang berdomisili di Singapura tersebut, mendapat dua julukan yakni 'sarang tawon' dan 'belut berbisa di kolam oli'.
Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri pernah mengatakan, pembubaran Petral yang diindikasikan banyak dipenuhi sarang mafia migas, merembet pada kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang hampir sama diungkapkan Staf Ahli Menteri ESDM, Said Didu. Ia mengatakan, rencana pembubaran Petral sudah sejak 2006, namun baru di era Pemerintahan Presiden Jokowi hal tersebut bisa terealisasi. Pasalnya dari dulu Petral itu sangat sulit dibubarkan, perusahaan ini ibarat belut berbisa di kolam oli.
"Yang dari dulu Petral diibaratkan berupa kolam oli yang berisi belut berbisa," ujar Said
Menurut Said, saat itu Pertamina membentuk Integrated Supply Chain (ISC) atas kesepakatan bersama dengan Kementerian BUMN, dan tujuannya untuk menggantikan peran Petral secara bertahap dalam pengadaan impor minyak dan BBM.
"Pimpinan ISC saat itu adalah Sudirman Said (saat ini Menteri ESDM). Baru jalan sampai 2009 justru ISC dihentikan, Sudirman Said diberhentikan. Jadi Sudirman Said salah satu yang tergigit belut berbisa dari kolam oli. ISC ditutup, Petral jalan kembali," ungkapnya.
(rrd/dnl)











































