Tidak semua anggota tim yang hadir, hanya mantan Ketua Tim Faisal Basri dan didampingi dua anggota lainnya Parulian dan Djoko Siswanto.
Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Tim yang dipimpin Faisal Basri ini, dimulai pada Pukul 19.30 WIB di Ruang Rapat Komisi VII DPR, dan dihadiri 18 Anggota Komisi VII. Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi VII Kardaya Warnika.
Dalam rapat tersebut, hampir seluruh anggota Komisi VII mendesak agar Faisal Basri mengungkap bagaimana permainan mafia di Petral dan siap mafia yang bermain. Apa jawaban Faisal, apakah Faisal berani mengungkapkan siapa mafia migas sebenarnya? Ini jawaban Faisal yang dirangkum detikFinance, Kamis (21/5/2015).
1. Komisi VII: Siapa Mafia Migas?
|
|
"Kalau saya lihat saat ini Pak Faisal sepertinya melembut. Saya pikir langsung to the point saja, kalau ada nama sebut nama," tegas Hari.
Hal yang sama juga diungkapkan, Anggota Komisi VII Fraksi PDIP Yulian Gunhar, yang meminta agar Faisal tidak takut untuk mengungkap siapa mafia migas tersebut.
"Yang Bapak sebutkan hanya modus. Tadi Bapak menguraikan beberapa temuan (permainan mafia) harusnya Bapak juga dapat pelaku Pak, sebut saja Pak, jangan takut Pak, dari pada bapak ngomong tanggung-tanggung, di media sosial sudah ramai, sebut saja sekarang Pak, ini forum resmi," kata Yulian.
2. Faisal Basri: Kami Bukan Pemburu Mafia
|
|
"Sekedar untuk kejelasan saja, nama tim ini bukan Tim Anti Mafia Migas, melainkan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Tugas kami bukan memberantas mafia, tapi memperbaiki tata kelola migas, kalau tata kelola lembaganya beres, mafianya nggak akan bisa berkutik," ungkap Faisal.
3. Dapat Data Hasil <i>Nyolong</i>
|
|
"Bapak punya data-data soal semua list kejanggalan yang dilakukan Pertamina Energy Service (PES/anak usaha Petral), dan kalau ada mafia migas? Bapak dapat datanya dari trader atau dari mana?" tanya Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Hanura Inas Nasrullah Zubir ke Faisal.
Pengakuan cukup mengejutkan diungkapkan Faisal, data yang ia dapat selama 6 bulan memimpim Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, sebagian berasal dari nyolong alias mencuri.
"Saya nyolong Pak! Kalau kami kerja resmi, kami nggak akan dapat apa-apa, jadi kami nerobos," ungkap Faisal.
4. Tak Mau Ungkap Mafia Migas, Faisal: Saya Bukan Pengecut!
|
|
"Kalau saya sebutkan, risiko ada di saya. Bukan berarti saya pengecut, tapi kalau saya sebutkan sekarang mereka bisa mempersiapkan diri lalu saya dituduh mencemarkan nama baik," ungkap dia.
Faisal mengatakan, semua nama dan bukti awal sudah sepenuhnya diserahkan ke pihak penegak hukum. Pembuktian nama-nama tersebut akan dilakukan oleh aparat penegak hukum, dengan bukti yang lebih lengkap.
5. Petral Sejak Awal Dibentuk Memang Mencurigakan
|
|
"Pada 1969 Pertamina dan satu perusahaan Amerika Serikat mendirikan Petra Group di Bahama, dengan tujuan ekspor minyak. Pada 1978 terjadi reorganisasi besar-besaran, dan berganti nama menjadi Petra Oil Marketing Limited yang berbasis di Hong Kong," ungkap Faisal.
"Pada 1978 saat pindah ke Hong Kong, kroni-kroni Soeharto masuk ke Petral. mereka (kroni) tidak disebut mafia karena namanya ada di akte perusahaan. Bedanya itu saja, karena di Zaman Pak Soeharto tidak disebut mafia karena nama-namanya ada. Nama pemegang sahamnya ada terang benderang. Sekarang tidak ada mereka (kroni-kroni tersebut)," tambah Faisal.
Pada September 1998, Pertamina mengambil alih seluruh saham Perta Group. Pada Maret 2001, atas persetujuan pemegang saham, perusahaan berubah nama menjadi Pertamina Energy Trading Limited (Petral), yang berperan sebagai trading and marketing arm Pertamina di pasar internasional.
"Nah pada 1998, Presiden Soeharto lengser, Petra Group dibeli sahamnya seluruhnya oleh Pertamina. Kemudian didirikanlah Petral, yang kemudian membentuk anak usaha bernama Pertamina Energy Services Pte Limited (PES) pada 1992," ungkapnya.
"PES ini dijadikan bahan bancakan, makanya ya sudah diamputasi saja PES itu, kira-kira begitu ceritanya mengapa Petral dibubarkan," tutup Faisal.
Halaman 2 dari 6











































