"Chevron telah beroperasi 91 tahun, sebelum Indonesia merdeka. Dan sekarang kita mulai eksplorasi geothermal sejak 1994," kata Direktur Corporate Marketing Communication Chevron Indonesia, Dony Indrawan kepada detikFinance, di temui di Indonesia Petroleum Association (IPA) Convex 2015, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (21/5/2015).
Dony mengatakan, Chevron menyadari potensi panas bumi di Indonesia paling besar di dunia, karena terletak di daerah cicin gunung api. Potensi energi listrik yang bisa dikembangkan mencapai 27.000 megawatt (MW).
"Tapi panas bumi yang baru dikembangkan untuk energi listrik baru 1.300 MW. Jumlah itu hampir 50% disumbang dari proyek Chevron atau sebesar 647 MW," ujar Dony.
"Potensi panas bumi di Indonesia itu bahkan mengalahkan Amerika Serikat, Filipina, dan Selandia Baru yang lama memanfaatkan panas bumi untuk dijadikan listrik," tambahnya.
Dony mengungkapkan, saat ini Chevron sudah memiliki 2 proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) di Indonesia, yakni di PLTP Darajat dengan kapasitas 270 MW dan di PLTP Gunung Salak 377 MW.
"Dari dua PLTP ini sudah bisa menopang kebutuhan listrik 3 juta rumah di Jawa-Madura-Bali," ungkapnya.
Chevron tambah Dony, ingin terus menambah sebanyak mungkin PLTP di Indonesia, namun hal tersebut tidaklah mudah. Walaupun PLTP sangat menguntungkan untuk dikembangkan.
"Investor itu butuh kepastian dari pemerintah agar proyek pengembangan panas bumi bisa mulus. Butuh waktu 7-8 tahun untuk mengembangkan dan membangun PLTP, itu minimal, yang dibutuhkan adalah kepastian pemerintah," tutup Dony.
(Rista Rama Dhany/Wahyu Daniel)










































