Hatta Rajasa Merasa Difitnah, Faisal Basri: Ayo Cari Kebenaran, Saya Siap!

Hatta Rajasa Merasa Difitnah, Faisal Basri: Ayo Cari Kebenaran, Saya Siap!

Zulfi Suhendra - detikFinance
Selasa, 26 Mei 2015 13:56 WIB
Hatta Rajasa Merasa Difitnah, Faisal Basri: Ayo Cari Kebenaran, Saya Siap!
Jakarta - Mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa merasa difitnah terkait tudingan mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Faisal Basri, yang menuduhnya sebagai biang kekisruhan di sektor tambang.

"Kalau orang banyak bicara ayo kita cari kebenaran, saya siap," tegas Faisal ditemui usai acara diskusi media dengan tema 'Revisi Undang-Undang Migas dan Upaya Reformasi Tata Kelola Migas Indonesia' di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (26/5/2015).

Faisal mengatakan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara tidak mengamanatkan larangan ekspor mineral mentah pada 12 Januari 2014. Namun, berjalannya waktu, banyak sekali perubahan aturan yang menandakan adanya negosiasi. Sehingga larangan ekspor berlaku.

"Jelas baca undang-undangnya seribukali tidak ada larangan ekspor. Terus lihat perubahan dari waktu ke waktu yang saya present kemarin. Itu dalam waktu sekejap berubah berubah. Larangan ekspor boleh lagi. Kan 2012 pernah dilarang 3 bulan ke depan. Makanya produksi bauksit kan turun terus boleh lagi. Jadi menunjukkan adanya negosiasi," ungkapnya.

Selain itu, terkait ada keterlibatan permainan investor asing terutama dari Rusia. Faisal menyebut, kerjasama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dengan produsen aluminium dan alumina asal Rusia, UC Russia Alumina (Rusal) tetap diakomodasi pemerintah, padahal Rusal sudah wanprestasi. Di mana 2007 Rusal sudah MoU dengan Antam, namun tak jelas kelanjutan kerjasamanya.

"Tidak akan Rusal ini bangun smelter. Sekarang boro-boro peletakan batu pertama. Sekarang baunya pun sudah tidak ada. Kan jadi kalau saya sih mulai dari hasil. Hasilnya tidak ada Rusal bikin smelter. Hasilnya Rusal untung besar. Dan saya katakan tidak ada perusahaan smelter yang berani membangun fasilitas smelter kalau tidak punya konsesi bauksitnya," paparnya.

"Saya bangun pabrik, tidak punya konsesinya, apa yang mau saya smelting? Tidak ada tidak lazim. Ini kan pejabat negara kan (Hatta). Harusnya tahu kaidah public policy yang dasar. Itu aja. kalau akan diapapun saya harus siap. Saya siap dengan data-data yang ada," tegasnya.

Faisal menegaskan, tudingan kepada Hatta Rajasa bukan urusan personal, namun apa yang dia ungkapkan semata-mata ingin membuka mata masyarakat Indonesia, bahwa ada permainan pemburu rente di sektor ESDM yang merusak negara ini.

"Kalau saya tidak bicara begini, ini kan risiko. Hatta Rajasa juga kawan saya dulu di PAN, jadi it's nothing personal. Tapi kalau tidak ada yang bicara begini, nunggu hukum, nunggu bukti, rusak deh negara ini, ya jadi nggak apa-apa deh saya jadi korban," katanya.

Justru kata Faisal, dengan dirinya mengungkapkan adanya permainan pemburu rente di sektor ESDM, akan membuat masyarakat tahu peta permainan mafia selama ini.

"Dengan terangkatnya ini semua, jadi ngomong, ayo ngomong semua. Seperti di migas kan semua ngomongkan. Bagus nanti malah kelihatan petanya seperti apa. Oh ada yang pernah kalah tender, kelihatan semua. bagus sekali, bicaralah sebanyak-banyaknya, kelihatan nanti petanya. Selama ini tidak ada yang pernah keluar ke ranah publik," tutupnya.

(Rista Rama Dhany/Wahyu Daniel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads