"Apakah ada pemikiran dari Pertamina untuk menjadi holding perusahaan BUMN minyak dan gas? Karena sekarang kan tidak satu. Kalau digabung kan lebih efektif, jadi PGN (PT Perusahaan Gas Negara Tbk) bisa dimasukkan ke Pertamina," kata Ketua Komisi VII DPR sekaligus pimpinan rapat, Kardaya Warnika, di ruang Komisi VII DPR, Rabu (27/5/2015). Rapat dilakukan dengan Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto.
Kardaya mengatakan, kedua BUMN ini memiliki ruang lingkup kegiatan usaha yang sama. PGN memiliki Saka Energi yang bermain di sektor hulu, Pertamina punya Pertamina EP, termasuk juga anak usaha lain di sektor hilir migasnya.
"Karena pernah kejadian, keduanya rebutan beli suratu wilayah kerja, ujungnya dibeli bukan dengan harga mahal tapi dengan harga mahal sekali," ucapnya.
Mendapati pernyataan tersebut, Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya sedang mempelajari wacana holding tersebut.
"Iya Pak, kami sedang memperlajari," ucapnya.
Namun, Kardaya tak puas dengan jawaban tersebut. Menurutnya, jika hanya memperlajari tapi tanpa niatan, holding tersebut tak akan pernah terjadi.
"Memperlajari boleh, tapi tentu harus ada niatan dulu. Apakah Bapak ada niatan itu? Ada ya atau nggak? Atau malah nggak berposisi?" sanggah Kardaya.
Dwi menjelaskan, saat ini Pertamina sedang membangun kekuatan perusahaan untuk terus bersaing dengan perusahaan migas dunia. Karena menurut Dwi, saat ini dari aspek engineering saja Pertamina masih jauh tertinggal.
"Mengenai PGN (holding) Pak Pimpinan, niatan ini ada. Tetap terus terang kita harus memperhatikan bagaimana kita memposisikan sebuah strategi agar strategi ini bisa berjalan," katanya.
"Sekarang ini sudah mulai dingin (hubungan) antara Pertas dengan PGN. Dan mencoba membangun open access (pipa gas). Jalau peluang bisnis ini bisa bersinergi dan bila dibutuhkan untuk menjadi satu holding, tentu akan kita masukan proposal ke sana. Jadi kami melihat situasinya dulu," tutup Dwi.
(Rista Rama Dhany/Wahyu Daniel)











































