"Laba kuartal I (menurun) karena harga kami ikuti London Metal Exchange (LME). Kalau harga dunia naik-turun mempengaruhi laba kami, memang begitu nature bisnis kami, harga tidak bisa dikontrol. Tapi biaya bisa," ujar Chief Financial Officer Vale Indonesia, Febriyani Eddy di Kabupaten Luwu Timur, Sorowako, Sulawesi Selatan, Kamis (28/5/2015).
Terlebih lagi, saat ini harga nikel mulai menyentuh kisaran angka US$ 12.000-an per ton. Lebih rendah dibanding pada 2013 lalu.
"Kalau nanya harga nikel susah kita prediksi. Hari ini masih di kisaran US$ 12 ribu lebih rendah daripada 2013," lanjutnya.
Untuk menangkal anjloknya penjualan nikel ke depan, Febri mengungkapkan, perusahaannya harus mengoptimalkan biaya produksi dengan nilai terendah. Selain itu, pihaknya juga ingin melepas ketergantungan dari penggunaan listrik dari disel yang menggunakan BBM (bahan bakar minyak) cukup banyak.
"Kita harus kapan pun menjadi lowest cost producer, karena harga tidak bisa kita kontrol, sehingga kami tidak rentan dengan situasi harga dunia. Sejarah perusahan kita lebih dari 40 tahun konsisten, project utama kami mengurangi ketergantungan pada minyak," urai Febri.
Karena itu, Vale membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan mengonversi batu bara untuk menekan biaya produksi.
"Muncullah PLTA. Muncul konversi batu bara karena menurut harga rasio yang kita punya lebih hemat pakai batubara dan mengurangi impor. Project ini dalam 12 bulan terakhir exit expectation," pungkasnya.
(Ayunda W Savitri/Rista Rama Dhany)











































