"Kita sih dari pengusaha gemes ya lihatnya. Kadin (Kamar Dagang dan Industri) melihat ini gemes sekali," ujar Wakil Ketua Umum Bidang Infrastruktur Kadin Indonesia, Zulnahar Usman ditemui di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (3/6/2015).
Naiknya tarif listrik, sambung dia, turut menyumbang peningkatan beban usaha yang membuat industri di dalam negeri sulit bersaing dengan negara lain.
"Listrik, energi, itu memegang peran penting dalam daya saing. Kalau terlalu sering naik, industri-industri kita sulit berkompetisi dengan negara luar. Ini harus diperhatikan pemerintah," tuturnya.
Zulnahar berpandangan, pemerintah harusnya tidak hanya berkutat pada permasalahan tarif dalam menghadapi tingginya biaya energy yang dialami bangsa Indonesia.
Menurutnya, hal yang lebih mendesak adalah menyediakan energi murah sehingga masyarakat tanpa perlu lagi dibebani oleh kanaikan tarif listrik.
"Konsekuensi dari naik turunnya biaya listrik harus diantisipasi. Kalau terus-terusan naik nggak baik. Pemerintah ini, dari zaman dahulu senang berkutat pada kenaikan tarik. Harusnya pola pikir ini harus diubah. Harusnya mulai serius kembangkan energi murah supaya nggak berkutat lagi dengan tarif," pungkas dia.
Seperti diketahui, PLN kembali menaikkan tarif listrik non subsidi pada Juni tahun ini. Namun, besaran kenaikan tarif listrik tidak terlalu signifikan hanya Rp 6,6-Rp 9,43/kwh.
(Dana Aditiasari/Rista Rama Dhany)











































