"Selisih antara Pertamax dengan Premium makin lebar, mencapai Rp 1.900/liter, kami khawatir ini akan terjadi migrasi yang cukup signifikan pengguna Pertamax ke Premium," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Rabu (3/6/2015).
Tentunya Pertamina tidak ingin pengguna Pertamax beralih kembali ke Premium, karena harga Premium saat ini masih di bawah harga keekonomian, alias Pertamina rugi jual Premium.
Ketika disparitas harga Pertamax dengan Premium hanya Rp 1.000/liter, terjadi kenaikan konsumsi Pertamax hingga 300% lebih. Saat ini konsumsi bensin RON 92 ini rata-rata 7.000 kilo liter per hari, tahun lalu hanya di bawah 2.000 KL per hari.
"Kalau Pertalite sudah ada di SPBU, migrasi ke Premium dapat segera dicegah," ujar Bambang. Seperti diketahui, kualitas Pertalite lebih baik dibandingkan Premium, tapi harganya masih di bawah Pertamax.
Ia mengakui, semua perizinan terkait penjualan Pertalite sudah dipenuhi semua, termasuk lolos uji spesifikasi, serta izin niaga.
"Semuanya sudah siap, tinggal tunggu arahan Direktur Utama (Dwi Soetjipto), karena beliau masih dinas. Karena arahannya penting, apakah kita harus izin DPR dulu atau hanya beri surat pemberitahuan. Yang pasti semua sudah siap," tutup Bambang.
(Rista Rama Dhany/Angga Aliya)











































