"Kita membutuhkan pembangkit listrik yang berasal dari renewable energy, khususnya daerah terpencil," kata Direktur Utama PT PJB, Muljo Adji di Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2015).
"Sekarang ini, beberapa daerah terpencil disediakan listriknya menggunakan batubara seperti di Maluku, ada juga yang menggunakan gas dan kalau terpaksa sekali PLN itu menggunakan minyak," tambahnya.
Karena itu, menurut Muljo, PT PJB melirik luas lautan Indonesia yang menyimpan sejuta potensi. Salah satunya dengan memanfaatkan rumput laut sebagai sumber gas untuk pembangkit listrik di daerah terpencil.
"PJB berpikir suatu saat kita butuh renewable energy yang resources-nya bisa berputar di lokasi itu sendiri. Salah satu alternatif kita adalah pembangkit listrik tenaga biogas dari rumput laut," ujar Muljo.
Untuk mewujudkan hal ini, PT PJB melakukan MoU dengan perusahaan asal Belanda untuk mempelajari teknologi pengolahan rumput laut menjadi biogas. MoU itu telah ditandatangani pada 3 Juni kemarin, dan PJB kini akan berkoordinasi ke kementerian terkait dan kepala daerah terkait untuk membangun pembangkit listrik tersebut.
"Teknologi rumput laut ke gas itu ada. Kita akan belajar dari pemilik teknologi, perusahaan dari Belanda. Perjalanan masih panjang, tapi kalau didukung semua pihak, untuk bangun itu cuma butuh 5 bulan, bandingkan dengan PLTU itu 3 tahun," ucap Muljo.
"Kita juga tahu, penduduk Indonesia di pesisir itu sudah pintar. Banyak petani rumput laut yang bisa kita ajak bersama. Bayangkan, itu bisa menyerap tenaga lokal, saya yakin lokal bisa dan berperan," tambahnya.
Kemudian Muljo berencana pembangkit listrik 'tenaga' rumput laut itu dibuat dengan kapasitas minimal 30 megawatt yang terdiri dari 3 unit masing-masing 10 megawatt. Sehingga wilayah-wilayah terpencil di pesisir akan merasakan listrik selama 24 jam.
"Kalau tiba-tiba 50 megawatt itu nanti nggak ada pemakainya," imbuh Muljo.
(vid/rrd)











































