Sudirman mengungkapkan, dari pertemuan bilateral dengan delegasi Iran, menghasilkan komitmen kerjasama suplai kondensat dan elpiji dalam jumlah yang besar dan dalam jangka waktu yang panjang.
"Iran juga menawarkan kondensat dalam jumlah besar dan LPG. Saat ini, Produksi Iran untuk kondensat adalah 1 juta barel dan produksi elpiji 15 juta Metrik Ton (MT)," kata Sudirman dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/6/2015).
Namun, kerjasama tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut sambil menunggu dicabutnya sanksi perdagangan terhadap negara Iran oleh komunitas internasional.
Ia menambahkan, Iran juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berinvestasi pendirian pabrik pupuk. Ini mengingat harga gas di Iran sangat murah berkisar US$ 2βUS$ 3 /MMBTU.
"Lokasi yang ditawarkan adalah di bagian selatan Iran yang dekat berbatasan dengan Pakistan. Jika program ini diimplementasikan, maka Indonesia dapat memiliki suplai pupuk urea yang kompetitif dalam jangka panjang," ungkapnya. Harga gas internasional saat ini berkisar di atas US$ 10/MMBTU.
"Iran juga membuka peluang bagi PT Pertamina (Persero) untuk masuk ke dalam kegiatan usaha hulu, baik sebagai operator atau pemegang share," lanjut Sudirman.
Selain dengan Iran, Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) juga membuka peluang untuk berinvestasi melalui National Oil Company (NOC) Mubadala Petroleum untuk mengoperasikan blok-blok minyak di Indonesia. Saat ini Mubadala telah mengoperasikan Blok Sebuku dan juga tengah melakukan joint study (tahap awal eksplorasi) di wilayah Natuna.
Β
"Di sisi hilir Pemerintah UEA menawarkan crude dan BBM dengan skema pembelian langsung antar NOC tanpa perantara. Pemerintah UEA juga menawarkan untuk berpartisipasi dalam penanaman investasi untuk pembangunan kilang minyak," tutup Sudirman.
(rrd/ang)











































