Hal yang pertama akan dilakukan Rusman adalah segera memilih para jajaran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Badan ini yang bertugas memungut dan mengelola dana 'celengan' sawit untuk pengembangan industri sawit Indonesia.
"Ada fit and proper test lah untuk direksi yang belum ada. Pak Bayu sebagai dirut boleh mengajukan, pemerintah juga boleh. Semua boleh. Karena tinggal empat, karena yang lain kan sudah portofolionya, empat itu saya minta ada 10 calon. Segera. Karena tinggal itu yang belum lengkap," kata Rusman ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (15/6/2015).
Sebagai Ketua Dewan Pengawas, Rusman meminta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit bisa segera bergerak menjalani tugasnya, memungut dana 'celengan' dari ekspor sawit mulai 1 Juli 2015, selain itu badan ini bisa menyukseskan program biodiesel atau Bahan Bakar Nabati (BBN) 15%.
"Badan ini punya mandat untuk menyukseskan B15," katanya.
Rusman juga berharap, badan ini juga bisa mendorong penggunaan BBN hingga 70% suatu saat ini.
"Ya pokoknya untuk biodiesel itu prioritas, bisa B70%, 50% atau 40%. Tantangannya bagaimana biodiesel ini bisa lebih ekonomis daripada solar. Karena sekarang ini biodiesel lebih mahal daripada solar," tutupnya.
(rrd/hen)











































