Melalui Penanaman Modal Negara (PMN) sebesar Rp 5 triliun, PLN menjamin daerah-daerah tersebut bisa teraliri listrik meskipun belum maksimal.
"PMN Rp 5 triliun rencana sebagai pendukung independent power producer (IPP), baik jaringan dan pembangkit daerah terpencil, alokasi sudah disesuaikan," kata Direktur Utama PLN Sofyan Basir di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (16/6/2015).
Dia menyebutkan, dalam jangka pendek, pulau-pulau terpencil yang akan dialiri listrik adalah Maluku Utara dan Maluku Tenggara.
Namun, aliran listrik melalui solar panel ini bisa dinikmati hanya dari pagi sampai siang hari saja atau saat ada cahaya matahari, sementara malam hari menggunakan baterai.
"Rencana tahap pertama yaitu elektrifikasi pulau-pulau dan daerah-daerah yang sama sekali belum ada listrik, kami siapkan solar panel, untuk malam hanya satu lampu untuk emergency light, baterai itu beban cost besar 40-50 sen, sampai sekarang belum ada pengganti dari baterai tadi," jelas dia.
Selain itu, untuk mengatasi krisis listrik nasional, program lainnya yang tengah digarap PLN yaitu pembangkit listrik 35 ribu Megawatt, dari besaran itu, porsi PLN sebesar 10 ribu Megawatt dan sisanya IPP alias swasta.
"Saat ini, masih terkendala pembebasan lahan, ini sangat serius, kami sedang cari solusi, prosesnya panjang 360 hari kerja, ini kondisi normal, cari cara lain untuk menghadapi keterlambatan transmisi yang selama ini terjadi. Ada juga 32 pembangkit skala kecil sampai hari ini tidak jalan, kami dengan BUMN lain cari solusi," tandasnya.
(drk/rrd)











































