Sepanjang 2014, PT Pertamina (Persero) mencatat penurunan laba bersih yang cukup signifikan. Laba Pertamina anjlok 45%, dari Rp 33,8 triliun di 2013 menjadi Rp 18,5 triliun di 2014.
Omzet atau pendapatan usaha Pertamina pada 2014 naik Rp 878,8 triliun, dibandingkan omzet pada 2013 yang hanya Rp 743,1 triliun.
"Pokoknya kita sudah bilang ke pemerintah. Laba kita itu harus US$ 1,7 miliar. Opsinya banyak seperti berikan Pertamina kelola hulu migas. Kita optimis target itu tercapai," jelas Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro di Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, Selasa (16/6/2015).
Dia menjelaskan, pihaknya tidak bisa intervensi soal kenaikan harga BBM di Jawa, Madura, Bali (Jamali), Pertamina hanya sebatas memberikan usulan, pemerintah yang memutuskan.
"Jamali memang diputuskan pemerintah dan non Jamali memang kita, tetapi kan kita juga harus minta persetujuan dari pemerintah," katanya.
Dengan menjual harga premium saat ini, Pertamina mengaku rugi. Meski demikian, kerugian ini ditutup kompensasi pemerintah.
"Pemerintah itu akan berikan kompensasi ke Pertamina. Perhitungan kita kan nanti dikasih pemerintah dan pemerintah harus beri kompensasi. Pokoknya target kita itu US$ 1,7 miliar buat laba kita. Misalnya pengelolaan hulu atau kegiatan-kegiatan yang diberikan Pertamina. Termasuk pengelolaan migas di hulu," tandasnya.
(drk/rrd)











































