"Pada waktu Total datang itu, Kita kan diminta melakukan pendalaman kemudian kalau keputusannya sudah jelas pemerintah memberikan kepada Pertamina, kemudian Pertamina boleh take down kepada eks operator (Total)," kata Menteri ESDM Sudirman Said ditemui di Kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (16/6/2015).
Sudirman mengatakan, melihat peluang dari Pertamina tersebut, Total telah mengajukan proposal untuk dapat kembali mengelola Blok Mahakam bersama-sama dengan Pertamina.
"Mereka (Total) menyampaikan aspirasi. Berapa? Rahasia dong. Angkanya (share saham) masuk akal, tapi saya nggak mau nyebut," kata Sudirman.
Ia mengungkapkan, yang harus dipastikan Pertamina harus menjadi pengelola (operator) pada Blok Mahakam dengan share saham minimal 51%.
"Tapi semua nunggu kebijakan bapak presiden karena pasti beliau mempertimbangkan hal yang lebih luas. Tidak hanya pre commercial tapi juga seluruh aspek, kita tunggu aja. Saya kira dalam waktu dekat. Minggu ini? Jangan disampaikan ke wartawan dulu," ujar Sudirman.
Seperti diketahui, untuk mengelola Blok Mahakam diperlukan dana yang cukup besar, Total E&P saja menghabiskan dana investasi US$ 2 miliar per tahun.
Blok Mahakam sampai saat ini menghasilakan produksi gas bumi nasional paling besar di Indonesia. Total sudah hampir 50 tahun mengelola blok ini, dan kontraknya akan berakhir pada 31 Desember 2017.
Salah satu keuntungan Pertamina menawarkan saham Blok Mahakam ke Total adalah, Pertamina dapat saham blok milik Total yang ada di berbagai negara.
"Iya itu bagian yang dari didialogkan dengan mereka tidak hanya Total tapi juga yang lain-lain. Kita minta, misalnya kemarin dalam perjalanan ke OPEC di Wina itu dalam rangka itu mencari kesempatan bagi Pertamina untuk bisa dapat akses luar negeri," tutup Sudirman.
(rrd/hen)











































