Pertamina Butuh US$ 500 Juta/Hari Untuk Impor BBM, Naik 233%

Pertamina Butuh US$ 500 Juta/Hari Untuk Impor BBM, Naik 233%

Rista Rama Dhany - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2015 11:08 WIB
Pertamina Butuh US$ 500 Juta/Hari Untuk Impor BBM, Naik 233%
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memerlukan dolar Amerika Serikat (AS) yang luar biasa banyak, untuk memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat saat puasa dan lebaran tahun ini. BUMN ini harus menggelontorkan US$ 500 juta/hari, atau sekitar Rp 6,5 triliun/hari hanya untuk impor minyak dan BBM. Jumlah naik 233% dari 2013 lalu.

Kemarin Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, jumlah impor ini untuk mengantisipasi kebutuhan BBM saat puasa dan lebaran.

"Jadi pertama, kilang minyak kapasitas maksimum 850.000 barel per hari, tetapi karena kenaikan demand tadi perlu kita antisipasi kekurangan dari impor," kata Dwi kemarin.

Dwi mengatakan, untuk impor minyak dan BBM tersebut, Pertamina memerlukan banyak dolar AS. Dibutuhkan sebanyak US$ 400-500 juta dolar AS per hari hanya untuk impor minyak dan BBM.

"Rata-rata sehari membutuhkan US$ 400-500 juta dolar AS," ungkap Dwi.

Bila dibandingkan kebutuhan dolar untuk impor BBM dua tahun lalu, jumlahnya melonjak tajam. Karena pada 2013, kebutuhan dolar Pertamina hanya sekitar US$ 150 juta per hari, bahkan diklaim turun hanya sekitar US$ 100 juta/hari, karena ada program mandatori bahan bakar nabati (BBN) 10%.

Hal tersebut seperti diungkapkan Karena Agustiawan yang kala itu masih menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina.

"Kebutuhan dolar Pertamina sekarang di bawah US$ 100 juta per hari. Sebelumnya kebutuhan dolar Pertamina mencapai US$ 150 juta per hari," kata Karen.

Menurunnya kebutuhan dolar Pertamina ini, kata Karen, salah satunya karena adanya mandatori (kewajiba) campuran bahan bakar nabati (BBN) sebesar 10% ke dalam solar.

"Ini juga karenakan sejak 1 September 2013 Pertamina menjalankan mandatori mencampur 10% biofuel ke 70% solar, ini tentunya mengurangi impor BBM," kata Karen.

Melihat kondisi ini, dan terus tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, harus ada kebijakan revolusioner dari pemerintah, khususnya di bidang energi. Karena kebutuhan dolar yang besar setiap hari ini membuat rupiah tertekan. Apalagi kebutuhan dolar ini digunakan untuk impor barang konsumsi.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads