BI: Pertamina Butuh Dolar Untuk Impor BBM Rp 1,95 Triliun/Hari

BI: Pertamina Butuh Dolar Untuk Impor BBM Rp 1,95 Triliun/Hari

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2015 13:57 WIB
BI: Pertamina Butuh Dolar Untuk Impor BBM Rp 1,95 Triliun/Hari
Jakarta - PT Pertamina (Persero) membutuhkan dolar Amerika Serikat (AS) sekitar US$ 150 juta per hari atau sekitar Rp 1,95 triliun/hari, untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Bagaimana Bank Indonesia dapat menyediakan kebutuhan dolar AS sebanyak itu?

Direktur Task Force Program Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah mengatakan, pasokan valas yang ada sudah bisa memenuhi kebutuhan dolar AS Pertamina. Saat ini, rata-rata permintaan dolar AS Pertamina di pasar spot mencapai US$ 150 juta per hari.

"Wah tidak sebesar itu (US$ 500 juta). Pertamina masuk ke spot sekitar US$ 100-US$ 150 juta per hari. Dengan isi tanda tangannya kesepakatan hedging dengan 3 Bank BUMN (Forex Line) mudah-mudahan sebagian kecil sudah masuk ke transaksi forward," jelas dia kepada detikFinance, Rabu (17/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nanang menjelaskan, kebutuhan dolar AS Pertamina termasuk besar. Namun, sejauh ini sudah dapat dipenuhi dari supply valas dari eksportir dan capital inflows.

Dia menyebutkan, rata-rata pasokan valas dari domestik mencapai U$ 22 miliar per bulan, permintaan valas dari domestik U$ 23,7 miliar per bulan. Ekses demand sekitar US $1,7 miliar di penuhi atau dipasok dari capital inflows.

Oleh karena itu, penting untuk menjaga sustainabilitas capital inflows karena akan memenuhi ekses demand valas domestik.

Saat ini, supply valas yang bersumber dari capital inflows mencapai US$ 1,4 miliar per bulan. Inflows tersebut sebagian besar ke Surat Berharga Negara dan saham.

"Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga kepercayaan investor asing, karena mereka yang men-supply valas di domestik. Namun, investor asing ini peka terhadap terjadinya "risk on dan risk off" di pasar keuangan global, sehingga sering berpengaruh ke pasar keuangan kita," jelas Nanang.

Namun, kata dia, sepanjang investor asing memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kualitas pengelolaan kebijakan makro (moneter dan fiskal) Indonesia, investor asing terutama yang jangka panjang atau sering disebut "real money investors" akan tetap bertahan di Indonesia.

"Sangat penting untuk menempuh kebijakan moneter yang prudent dan konsisten. Inkosistensi dalam kebijakan moneter akan menurunkan kepercayaan asing. Dalam konteks ini BI sudah menunjukkan kebijakan moneter yang konsisten dan prudent," pungkasnya.

(drk/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads