Direktur Task Force Program Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah mengatakan, pasokan valas yang ada sudah bisa memenuhi kebutuhan dolar AS Pertamina. Saat ini, rata-rata permintaan dolar AS Pertamina di pasar spot mencapai US$ 150 juta per hari.
"Wah tidak sebesar itu (US$ 500 juta). Pertamina masuk ke spot sekitar US$ 100-US$ 150 juta per hari. Dengan isi tanda tangannya kesepakatan hedging dengan 3 Bank BUMN (Forex Line) mudah-mudahan sebagian kecil sudah masuk ke transaksi forward," jelas dia kepada detikFinance, Rabu (17/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebutkan, rata-rata pasokan valas dari domestik mencapai U$ 22 miliar per bulan, permintaan valas dari domestik U$ 23,7 miliar per bulan. Ekses demand sekitar US $1,7 miliar di penuhi atau dipasok dari capital inflows.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga sustainabilitas capital inflows karena akan memenuhi ekses demand valas domestik.
Saat ini, supply valas yang bersumber dari capital inflows mencapai US$ 1,4 miliar per bulan. Inflows tersebut sebagian besar ke Surat Berharga Negara dan saham.
"Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga kepercayaan investor asing, karena mereka yang men-supply valas di domestik. Namun, investor asing ini peka terhadap terjadinya "risk on dan risk off" di pasar keuangan global, sehingga sering berpengaruh ke pasar keuangan kita," jelas Nanang.
Namun, kata dia, sepanjang investor asing memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kualitas pengelolaan kebijakan makro (moneter dan fiskal) Indonesia, investor asing terutama yang jangka panjang atau sering disebut "real money investors" akan tetap bertahan di Indonesia.
"Sangat penting untuk menempuh kebijakan moneter yang prudent dan konsisten. Inkosistensi dalam kebijakan moneter akan menurunkan kepercayaan asing. Dalam konteks ini BI sudah menunjukkan kebijakan moneter yang konsisten dan prudent," pungkasnya.
(drk/rrd)











































