PT Pertamina (Persero) memerlukan dolar Amerika Serikat (AS) yang luar biasa banyak, untuk memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM). Bank Indonesia mencatat rata-rata BUMN energi ini menghabiskan US$ 150 juta/hari atau sekitar Rp 1,95 triliun hanya untuk impor BBM.
Bahkan untuk mengamankan pasokan BBM saat puasa dan lebaran, Pertamina menambah impor BBM dengan menggelontorkan dolar sebanyak US$ 500 juta.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menilai ini memang terjadi rutin menjelang lebaran Idul Fitri. Karena ada aktivitas mudik yang membutuhkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) lebih besar dari biasanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mirza mengakui hal tersebut akan memberikan tekanan terhadap rupiah. Meskipun menurutnya tekanan masih bisa diredam.β BI tetap akan menjaga pergerakan nilai tukar melalui berbagai sikap agar tidak terlalu fluktuatif.
Di samping itu juga ada dorongan yang baik dari neraca perdagangan. Sebab dalam lima bulan terakhir, sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan masih terhitung surplus.
"Nggak apa-apa (menekan rupiah), kan neraca perdagangan sudah mulai surplus," pungkasnya.
(mkl/rrd)











































