Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya bersyukur diberi kepercayaan mengelola blok gas terbesar tersebut. Dia berharap ditemukan cadangan-cadangan migas baru di blok tersebut.
"Kami perkirakan investasi tersebut US$ 2,5 miliar (Rp 32 triliun) per tahun. Yang kurang lebih perhitungan cadangan bisa berlangsung sampai dengan kontrak habis 20 tahun yang akan datang," jelas Dwi di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi mengatakan, karyawan yang selama ini bekerja di Blok Mahakam kemungkinan akan direkrut menjadi karyawan Pertamina, bila mereka bersedia. Pembagian saham ini sudah sepengetahuan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja mengatakan, Blok Mahakam ini pertama kali digarap sejak 1966. Pada 1997, kontrak Total di Mahakam diperpanjang hingga 2017. Total pernah mengajukan perpanjangan lagi pada 2008. Namun, Pertamina mengajukan minatnya mengelola blok gas terbesar tersebut. Akhirnya diperolehlah hasil seperti sekarang.
"Hasilnya sudah disampaikan oleh Pak Menteri dalam surat Menteri ESDM yang disampaikan ke Pertamina dan SKK Migas. Lalu diskusi intensif dengan Pertamina, Total, dan Inpex. Setelah itu Pak Menteri menyampaikan ke Pak Presiden Jokowi. Dari arahan Pak Presiden hari ini sudah diputuskan," kata Wiratmaja.
(dnl/hen)











































