Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling yang dibangun zaman Presiden Soeharto dengan kapasitas 700 megawatt (MW) dalam kondisi 'sekarat'. Akibat sedimentasi yang tinggi terjadi pendangkalan pada Waduk Saguling. Akibatnya usia PLTA ini diperkirakan hanya tinggal 30 tahun lagi.
General Manager Unit Pembangkit Saguling, PT Indonesia Power, Hendres Wayen Prihantoro mengungkapkan, makin tingginya sedimentasi pada waduk ini karena waduk telah dikelilingi perumahan mewah. Bahkan makin parah karena pengembang perumahan sekitar waduk mencoplok lahan waduk.
"Total lahan yang dicaplok pengembang perumahan elit di sekitar Waduk Saguling mencapai 67.414 meter persegi (atau sekitar 6,7 hektar)," ujar Hendres dihubungi detikFinance, Rabu (24/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Cluster Pitaloka luas lahan milik Indonesia Power seluas 100.727 meter persegi, tapi dicaplok oleh pengembang seluas 35.415 meter persegi
- Cluster Ratna Sasih, luas lahan milik Indonesia Power 45.145 meter persegi, tapi dicaplok 13.392 meter persegi
- Cluster Rambutkasih, luas lahan milik Indonesia Power 56.071 meter persegi, tapi dicaplok 4.667 meter persegi
- Cluster Larangsita, luas lahan milik Indonesia Power 80.557 dicaplok 13.940 meter persegi.
Total lahan yang dicaplok 67.414 meter persegi
Ia mengungkapkan lagi, dari desain awal rata-rata volume sedimentasi di waduk ini hanya sekitar 4 juta meter kubik. Pada 1985-2013 total volume sedimentasi dead storage sudah mencapai 78 juta meter kubik.











































