Waduk yang dibangun tahun 1985 pada era Presiden Soeharto ini, merupakan salah satu dari tiga waduk yang membendung aliran Sungai Citarum yang merupakan sungai terbesar di Jawa Barat. Dua waduk lainnya adalah, Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata yang semuanya saling terhubung.
Bagi Anda yang pernah menelusuri wilayah Bandung Barat, pasti akan tahu tentang keberadaan waduk ini. Bila dari Jakarta, maka patokannya adalah Pasar Rajamandala Cipatat, yang merupakan wilayah Bandung Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di tengah keindahan waduk ini, bagaikan 'bom waktu' waduk ini sedang kritis. Adanya sedimentasi yang tinggi, membuat waduk yang membentuk seperti jari-jari tangan manusia ini mengalami proses pendangkalan yang masif. Bahkan, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan ini diperkirakan hanya bisa berfungsi 30 tahun lagi, bila tak ditangani proses pendangkalan waduk.
Makin tingginya sedimentasi pada waduk ini, karena waduk telah dikelilingi perumahan mewah. Bahkan makin parah, karena pengembang perumahan sekitar waduk mencoplok lahan waduk.
Desain awal rata-rata volume sedimentasi di waduk ini hanya sekitar 4 juta meter kubik. Pada 1985-2013, total volume sedimentasi dead storage sudah mencapai 78 juta meter kubik.
Berikut ini beberapa gambar yang diambil detikFinance dari Google Maps, yang menggambarkan waduk ini sedang sekarat. Perkampungan warga, eceng gondok yang banyak munutupi permukaan waduk hingga pendangkalan tepian waduk terlihat nyata dari ketinggian.
(hen/dnl)











































