Waduk Saguling, di Bandung Barat, Jawa Barat yang dibangun masa pemerintahan Presiden Soeharto dan beroperasi pada 1985, kondisinya saat ini sedang sekarat. Luasnya makin menyempit, dan tingkat sedimentasinya makin parah.
Selain pemukiman yang mengepung kawasan tersebut, perilaku manusia yang buruk ternyata juga ambil besar sebagai penyebab makin dangkalnya Waduk Saguling. Salah satunya karena penambangan pasir ilegal di sekitar Sungai Citarum dan waduk Saguling.
Berdasarkan gambar yang diterima detikFinance, Kamis (25/6/2015) dari salah satu pengembang properti di wilayah Padalarang, begini tampak tambak pasir ilegal di sekitar Waduk Saguling.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Goa-goa pasit ilegal di sekitar sungai atau waduk menyebabkan tanah tidak stabil dan runtuh, sehingga terjadi erosi yang menyebabkan pendangkalan waduk makin tinggi.

Waduk Saguling menurut data Indonesia Power mengalami sedimentasi yang cukup parah. Bila kondisi ini terus berlangsung diperkirakan umur usia masa layanan waduk tinggal tersisa 30 tahun lagi.
Pasalnya dead storage area atau tampungan mati waduk Saguling mencapai sedimentasi sebanyak 167.689.000 meter kubik. Saat ini total sedimentasi sudah mencapai 78.923.188,92 meter kubik.
Bila waduk ini tidak berfungsi lagi, maka ini akan mengancam Pemangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling, yang selama ini memanfaatkan air dari waduk untuk memproduksi listrik total sebanyak 700 megawatt. Bila PLTA ini tak lagi memproduksi listrik, akan ada 3 daerah yang akan terancam kekurangan pasokan listrik alias krisis listrik.
"PLTA Saguling ini kan selama ini kan memasok listrik untuk 3 wilayah yakni Bandung Barat, Cirata, dan Cibinong, jumlahnya 700 MW, besar sekali. Kalau ini tidak beroperasi daerah ini akan defisit listrik," ujar General Manager Unit Pembangkit Saguling, PT Indonesia Power, Hendres Wayen Prihantoro.
(rrd/hen)











































