"Saya nggak mau Kaltim industrinya kayak Lhokseumawe, gas habis (Kilang Arun) industrinya jadi tutup. Saya nggak mau Bontang kayak Lhokseumawe," kata Awang ditemui di Hotel Senyiur, Balikpapan, Kaltim, Kamis (25/6/2015).
Seperti diketahui Kilang LNG Arun berdiri sejak 1978, sebagian hasil gas alam cair (LNG) dijual ke luar negeri, dan sekarang gas habis dan kilang tidak beroperasi lagi, industri dan pembangkit listrik di Lhokseumawe, Medan dan sekitarnya kesulitan dapat pasokan gas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Bontang saat ini masih beroperasi kilang LNG seperti Kilang Arun dulu.
"Semua gas harus diolah di Kaltim. Makanya saya juga menolak proyek pembangunan pipa gas Kalimantan-Jawa, di mana gas dari Kaltim dikirim ke Jawa. Kita capek berjuang 5 tahun baru dapat gas untuk PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) punya kita," ungkap Awang.
Selain itu, Awang juga meminta aset-aset PT Pertamina (Persero) di Kaltim yang di luar core bisnis Pertamina untuk diserahkan ke Pemda Kaltim untuk dikelola.
"Pemerintah harus paksa Pertamina untuk kasih aset yang bukan core bisnisnya ke Pemda. Banyak sekali aset Pertamina di daerah kita, daripada jadi rongsok kasih sajalah ke kita untuk dimanfaatkan. Kayak tanah-tanah Pertamina bisa kita manfaatkan," tutupnya.
(rrd/hen)











































