Kisah Inspiratif Indra, Lestarikan Citarum Sambil Mendulang Rupiah dari Sampah

Kisah Inspiratif Indra, Lestarikan Citarum Sambil Mendulang Rupiah dari Sampah

Baban Gandapurnama - detikFinance
Selasa, 30 Jun 2015 10:25 WIB
Kisah Inspiratif Indra, Lestarikan Citarum Sambil Mendulang Rupiah dari Sampah
Foto: Indra Darmawan (Baban-detikFinance)
Cihampelas -

Indra Darmawan namanya. Lelaki berusia 43 tahun ini berkontribusi nyata menjaga kelestarian Sungai Citarum. Dia bergerak memperbaiki kerusakan lingkungan yang menggerus Citarum. Ia juga mencegah aneka limbah rumah tangga bermuara ke Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

"Kalau ada sampah domestik mau masuk ke Saguling, kami tangkap sampahnya sejak berada di area Citarum. Tiap hari kami melakukannya," ujar Indra sewaktu berbincang bersama detikFinance, di tempatnya bekerja, Kampung Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2015).

Saguling membendung Citarum yang merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Fungsi danau buatan yang beroperasi sejak 1985 tersebut sebagai pemasok listrik Jawa-Bali. Indra merasa prihatin kondisi Waduk Saguling 'sekarat' atau tinggal berusia 30 tahun lagi akibat sedimentasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lahir di daerah ini. Saya tahu persis kondisi sebelum dan sesudah dibangun waduk. Dulu sekitaran Citarum yang mengalir ke Saguling memang sudah tercemar sampah, tapi kondisinya tidak separah sekarang," tuturnya.

Pada tahun 90-an, sambung Indra, Sagulung pun dijuluki 'septic tank' terbesar di dunia. Tiap harinya limpahan sampah dari tiga wilayah yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi berakhir di Waduk Saguling.

Gelisah gara-gara sampah itulah, mendorong Indra membawa perubahan kampungnya yang berada di sisi Sungai Citarum. Hasilnya, kini dia dan warga setempat sukses mendulang uang rupiah dari limbah.

Kisah inspiratif Indra ini tercetus pada 1998 atau bertepatan era reformasi. Kala itu Indra baru lulus Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjajaran (Unpad). "Setelah beres kuliah, saya pulang kampung. Saya melihat di sini ada dua masalah besar yakni kemiskinan dan kerusakan lingkungan Citarum dan Saguling," ucapnya.

Waktu itu krisis ekonomi menerpa Indonesia. Lapangan pekerjaan sulit direngkuh. Sementara kondisi warga Kampung Babakan Cianjur pas-pasan. Indra muda bertekad menggulirkan semangat positif.

Dia terlecut ingin menjadi pengusaha setelah membaca buku karangan Robert T.Kyosashi. "Saya ingin mencoba memperbaiki ekonomi warga dan membenahi kerusakan lingkungan. Munculah simbiosis mutualisme. Kami memanfaatkan sampah-sampah Waduk Saguling dan Citarum menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi," ujar Indra.

Dia bersama sekelompok warga mengumpulkan sampah di aliran Citarum. Indra ikut turun mengais ragam sampah rumah tangga. Mengawali pada 1998, kiprah Indra mengolah sampah jadi pundi rupiah bukan tanpa masalah. Singkat cerita, dirinya sering menggali ilmu dari pemilik pabrik pengepul sampah di kawasan Cigondewah, Kota Bandung.

Memasuki 2001, Indra serius memberdayakan tetangga dan menggaet para pemulung yang berada di Desa Cihampelas, Cipatik dan Citapen. "Kami mengumpulkan sampah-sampah rumah tangga seperti keresek dan plastik bekas. Para pemulung menggunakan perahu untuk mengambil dan memilah sampah di Citarum yang dekat genangan Saguling. Setelah itu sampah dipilah untuk dijual kepada pengepul. Kami juga olah sampah menjadi bahan biji plastik," ucap Indra.

Upaya Indra tersebut menuai sorotan positif. Pada 2005, Badan Zakat Nasional memberikan bantuan berupa pembelian mesin pencacah dan membangun tempat pengumpulan sampah. PT Indonesia Power selaku pengelola Waduk Saguling turut menjadi mitra Indra.

"Sekarang perbulannya sampah kantong keresek yang kami peroleh itu bisa mencapai 80 ton. Kalau plastik gelas bekas air mineral dapat 15 ton perbulan. Omzet dalam satu bulan sekitat Rp 60 juta," katanya.

Indra mendirikan koperasi yang diberi nama 'Bangkit Bersama' pada 2009. Kini anggota koperasi tersebut berjumlah 128 anggota. Kini jejak Indra dan warga setempat tak hanya soal urusan sampah. Dia menyulap enceng gondok menjadi kerajinan tangan, serta mencetuskan hutan komunitas yang tujuannya mengurangi erosi.

(bbn/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads