PT Pertamina membeli gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) dari ENI perusahaan asal Italia sebanyak 1,4 juta ton per tahun dari 2017 hingga 2024. Gas tersebut berasal dari dua lapangan gas laut dalam di Blok Muara Bakau, Kalimantan Timur.
Dua lapangan tersebut yakni Lapangan Jangkrik dan Lapangan Jangkrik North East yang dioperasikan ENI Muara Bakau BV dan bekerjasama dengan mitra kerjanya yakni GDF SUEZ Exploration Indonesia dan Saka Energi Muara Bakau. Saka Energi merupakan anak usaha PT PGN Tbk.
"Pemerintah akan terus mendorong investasi di bidang energi yang merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Penandatanganan SPA (Sales Purchase Agreement/Perjanjian Jual Beli Gas) ini akan menggerakkan investasi senilai US$ 4 miliar atau setara dengan Rp 50 triliun," ungkap Sudirman di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (30/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian gas dari blok ini akan disuplai ke domestik, sedangkan sebagian yang lain akan diubah menjadi LNG di Kilang LNG Badak, di Bontang, Kalimantan Timur sehingga dapat mendukung kilang LNG Badak untuk beroperasi secara optimal. Pasokan LNG dimanfaatkan oleh PT Pertamina (Persero) untuk memenuhi kebutuhan domestik dan mendukung pembangunan infrastruktur penerima LNG domestik.
Lapangan Jangkrik dan Jangkrik North-East merupakan dua lapangan gas laut dalam yang ditemukan di wilayah kerja blok Muara Bakau tahun 2009 dan 2011. Dua lapangan ini berlokasi di Selat Makassar, sekitar 100 km timur Kota Balikpapan dengan kedalaman 400 meter di bawah permukaan laut. Eni Muara Bakau BV adalah operator dari wilayah kerja tersebut dengan participating interest sebesar 55%; dengan mitra lainnya GDF Suez Exploration Indonesia dengan participating interest 33,334%, dan Saka Energi Muara Bakau dengan participating interest 11,666%.
"Setelah Proyek Lapangan Jangkrik ini berjalan, maka akan terbuka peluang untuk menggerakkan proyek-proyek berikutnya antara lain Ande-Ande Lumut dan IDD (Indonesian Deep water Development) yang memerlukan investasi sebesar US$ 850 juta dan US$ 12 miliar," ungkap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi.
(rrd/dnl)











































