Awalnya, rapat yang dimulai sejak pulul 12.00 WIB ini berjalan sesuai dengan topik permasalahan. Namun, merupakan hal yang umum dalam setiap rapat dengan pendapat dengan DPR, setiap anggota diberikan kesempatan untuk berbicara.
Anggota Komisi VI, DPR RI, Iskandar D Syaichu ingin Pertamina menjelaskan, bagaimana Petral dibubarkan dengan segala prosesnya. Dia juga penasaran dengan utang-utang yang ditinggalkan oleh Petral setelah dibubarkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Petral dibubarkan. Tentu saja Pertamina akan menanggung semua hutang Petral, juga menanggung kontrak yang sudah ditandatangani Petral. Berapa utang petral, bagaimana pola Pertamina membereskan Petral. Apakah salah satunya jual aset Petral," tanya Iskandar bernada tegas kepada Dwi.
Mendapatkan kesempatan untuk menjawab, Dwi mengatakan, secara total, utang Pertamina kini mendapai US$ 16,6 miliar yang mencakup utang jangka pendek sebesar US$ 4,9 miliar, jangka panjang US$ 3 miliar dan obligasi senilai US$ 8,3 miliar.
"Aset Pertamina US$ 50,3 miliar. Rasio utang kami 33% jadi masih cukup baik untuk berkembang. Terkait Pak Iskandar, dalam menekan utang, di saat yang sama kami membutuhkan tambahan utang. Kami butuh investasi besar," jawab Dwi.
Berbicara mengenai Petral, Dwi mengatakan, sejak dibubarkan hingga saat ini, Pertamina mendapatkan efisiensi biaya terkait pembubaran Petral. Transaksi pembelian minyak koni langsung dilakukan pertamina.
"Sudah hampir 100% pembelian kami tidak menggunakan LC. Yang kedua, efisiensi yang diperoleh sampai dengan Mei, efisiensi pemindahan Petral ke Pertamina US$ 36,6 juta," tutupnya
(zul/rrd)











































