Rapat dengan DPR, Bos Pertamina Ditanya Soal Utang Petral

Rapat dengan DPR, Bos Pertamina Ditanya Soal Utang Petral

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2015 15:20 WIB
Rapat dengan DPR, Bos Pertamina Ditanya Soal Utang Petral
Jakarta - PT Pertamina (Persero) menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI. Dalam rapat yang membahas mengenai program kegiatan bina lingkungan (PKBL) tersebut, Pertamina justru dicecar mengenai pembubaran PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral) hingga utang-utang yang ditinggalkannya.

Awalnya, rapat yang dimulai sejak pulul 12.00 WIB ini berjalan sesuai dengan topik permasalahan. Namun, merupakan hal yang umum dalam setiap rapat dengan pendapat dengan DPR, setiap anggota diberikan kesempatan untuk berbicara.

Anggota Komisi VI, DPR RI, Iskandar ‎D Syaichu ingin Pertamina menjelaskan, bagaimana Petral dibubarkan dengan segala prosesnya. Dia juga penasaran dengan utang-utang yang ditinggalkan oleh Petral setelah dibubarkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertanyaan tersebut dilayangkan kepada Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto yang hadir di dalam rapat ditemani beberapa direksi lainnya di ruang rapat Komisi VI, Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2015).

"Petral dibubarkan. Tentu saja Pertamina akan menanggung semua hutang Petral, juga menanggung kontrak yang sudah ditandatangani Petral. Berapa utang petral, bagaimana pola Pertamina membereskan Petral. Apakah salah satunya jual aset Petral," tanya Iskandar bernada tegas kepada Dwi.

Mendapatkan kesempatan untuk menjawab, Dwi mengatakan, secara total, utang Pertamina kini mendapai US$ 16,6 miliar yang mencakup utang jangka pendek sebesar US$ 4,9 miliar, jangka panjang US$ 3 miliar dan obligasi senilai US$ 8,3 miliar.

"Aset Pertamina US$ 50,3 miliar. Rasio utang kami 33% jadi masih cukup baik untuk berkembang. Terkait Pak Iskandar, dalam menekan utang, di saat yang sama kami membutuhkan tambahan utang. Kami butuh investasi besar," jawab Dwi.

‎Berbicara mengenai Petral, Dwi mengatakan, sejak dibubarkan hingga saat ini, Pertamina mendapatkan efisiensi biaya terkait pembubaran Petral. Transaksi pembelian minyak koni langsung dilakukan pertamina.

‎"Sudah hampir 100% pembelian kami tidak menggunakan LC. Yang kedua, efisiensi yang diperoleh sampai dengan Mei, efisiensi pemindahan Petral ke Pertamina US$ 36,6 juta," tutupnya

(zul/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads