Minyak RI Habis 12 Tahun Lagi, Cari Cadangan Dipersulit Birokrasi

Minyak RI Habis 12 Tahun Lagi, Cari Cadangan Dipersulit Birokrasi

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2015 08:03 WIB
Minyak RI Habis 12 Tahun Lagi, Cari Cadangan Dipersulit Birokrasi
Jakarta - Cadangan minyak Indonesia saat ini diperkirakan habis 12 tahun lagi, apabila tidak ada cadangan minyak baru. Sayangnya, ketika ingin mencari minyak di Indonesia, investor justru dipersulit dengan banyaknya birokrasi, baik itu perizinan, aturan pengadaan barang, sampai pembebasan lahan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengungkapkan, tahun ini survei dan pengeboran sumur eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) sangat minim. Bahkan jauh di bawah target yang ditentukan.

"Khususnya untuk kegiatan eksplorasi, dari rencana survei seismik sebanyak 46 kegiatan, terealisasi 12 kegiatan atau hanya 26%. Bahkan, untuk program pengeboran eksplorasi dari rencana 157 sumur baru terealisasi 26 sumur, atau 17%," ungkap Amien ditemui di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (8/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amien mengatakan, minimnya pengeboran sumur eksplorasi karena banyak hambatan yang dialami perusahaan migas. Paling utama hambatannya datang dari birokrasi, yakni banyaknya perizinan.

"Kendala terbesar untuk realisasi kegiatan ini adalah perizinan dan pembebasan lahan. SKK Migas berharap dukungan seluruh pihak untuk mendorong terealisasinya kegiatan eksplorasi yang sudah diprogramkan," katanya.

Ia menegaskan, bila kondisi ini terus berlanjut, akan berdampak pada rendahnya penemuan cadangan migas yang baru, sehingga akan mengancam pasokan energi bagi generasi mendatangi.

"Minimnya kegiatan eksplorasi ini akan berdampak pada rendahnya penemuan cadangan baru dan kesinambungan produksi di tahun-tahun mendatang," tutupnya.

Seperti diketahui, cadangan minyak Indonesia saat ini hanya tersisa sekitar 1,2 miliar barel, karena dalam sehari saja, minyak yang disedot dari perut bumi Indonesia sebanyak 820.000 barel per hari.

Jumlah produksi itu pun masih jauh di bawah kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional per harinya yang diperkirakan mencapai 1,5 juta barel per hari.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads