Ditargetkan, dana dari 'celengan' sawit ini bisa terkumpul hingga Rp 10 triliun per tahun. Tapi, tahun ini saja, dana yang terkumpul ditargetkan mencapai Rp 4,5 triliun.
Demikian disampaikan Direktur Utama BPDP Bayu Krisnamurthi saat konferensi pers di kantor PIP, Graha Mandiri, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa (14/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bayu menjelaskan, perkiraan pengumpulan dana 'celengan' sawit tersebut akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi pasar dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Seperti diketahui, pungutan sawit ini dipatok dalam tarif dolar. Untuk satu ton sawit pungutannya sebesar US$ 50 per ton, sementara turunannya sebesar US$ 10-40 per ton.
"Setahun kira kira dengan kurs Rp 13.000 sekian dengan perhitungan data pengalaman ekspor 2014, dana yang akan terkumpul Rp 9,5-10 triliun per tahun. Kalau kurs berubah ya dia berubah," ujar Bayu.
Dia menyebutkan, dana 'celengan' sawit ini nantinya akan digunakan untuk replanting atau peremajaan kebun sawit milik masyarakat dan untuk dukungan konsumen untuk konsumsi biodiesel.
"Bahan bakar campuran ini punya emisi karbon antara 20-40 persen lebih rendah dibanding fosil fuel. Kita sudah menyepakati ketentuan support biodiesel. Badan ini akan memberikan support Rp 600-700 per liter, ini adalah on top dari Rp 1.000 subsidi pemerintah terhadap solar yang sudah ditetapkan dalam APBN," imbuh Bayu.
(drk/rrd)











































