Dengan pungutan tersebut, pemerintah melalui BPDP Sawit ini memberikan keringanan berupa support atau dukungan tidak langsung untuk meringankan harga bahan bakar (BBM) jenis biodiesel sebesar Rp 600-700 per liter.
Direktur Utama BPDP Sawit Bayu Krisnamurthi mengatakan, besaran dukungan tersebut sudah melalui berbagai perhitungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bayu menyebutkan, PT Pertamina (Persero) juga diminta untuk menggunakan bahan bakar jenis campuran sawit ini.
Selama ini, Pertamina kurang berminat menggunakan biodiesel dengan alasan selisih harganya lebih tinggi jika dibandingkan dengan fosil diesel. Dengan adanya dana 'celengan' sawit ini, mau tidak mau Pertamina harus menggunakan B15 (biodiesel 15%).
"Ada selisih harga biodiesel dengan MOPS (Mean of Platts Singapore). Dengan adanya sistem ini menyelesaikan selisih harga tersebut, jadi tidak ada alasan bagi Pertamina untuk nggak gunakan B15," kata Bayu.
Dia menambahkan, subsidi yang diberikan melalui BPDP ini akan dialokasikan kepada produsen seperti Pertamina sehingga nantinya harga jual menjadi lebih murah.
"Subsidi Rp 1.000 akan diberikan kepada konsumen, prinsip supportnya pada konsumen tapi mekanismenya itu Rp 1.000 diberikan pada produsen BBM-nya, itu fix (tetap) di APBN, yang Rp 600-700 itu bergerak sesuai harga pasar, diberikan kepada produsen bahan bakunya, jadi konsumen secara tidak langsung akan diberikan subsidi Rp 1.600-1700 per liter," jelas Bayu.
(drk/rrd)











































