"Betul itu yang pertama. Sebenarnya sudah kita lakukan sejak tahun lalu. Ini yang pertama di Indonesia," kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, di acara Peresmian Proyek Infrastruktur Pertamina di Depot LPG Pertamina, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (14/7/2015).
Wianda mengatakan, jika dihitung secara penghematan, kendaraan-kendaraan tambang di Kalimantan Timur tersebut bisa lebih berhemat karena pada dasarnya harga dari LNG lebih murah ketimbang bahan bakar solar untuk truk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di China, lanjut Wianda, bahan bakar LNG pun digunakan untuk kendaraan-kendaraan bus yang menempuh jarak jauh.
"Bagus untuk bus-bus jarak jauh, seperti di China," tutupnya.
Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) menandatangani perjanjian kerjasama dengan KKKS Mahakam, yaitu Total Indonesie dan Inpex. Keduanya menandatangani perjanjian jual beli LNG untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan industri pertambangan dan komersial di Kalimantan.
Volume yang disepakati dalam perjanjian jual beli tersebut adalah 660 ton dengan periode pasokan hingga akhir 2015. Perjanjian kerjasama tersebut ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan Pertamina, dan disaksikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja.
Salah satu komitmen dalam kerjasama yang dijalankan ini nantinya adalah konversi dari BBM ke BBG. Di mana nantinya kendaraan-kendaraan tambang di Kalimantan Timur bakal menggunakan LNG.
Perusahaan tambang yang truknya menggunakan LNG nantinya ada dari empat perusahaan, yaitu PT Cipta Krida Tama, PT Rukun Raharja, Berau Coal/BSB, dan PT Kaltim Prima Coal/Thiess. Sebelumnya, dalam masapilot project PT Pertagas Niaga anak usaha Pertamina telah berhasil mengirimkan LNG ke lokasi tambang Berau, Indominco, dan konsumen komersial Balcony Mall, Balikpapan dengan aman.
(zul/rrd)











































