"Untuk 35.000 MW mulai efektif kerja hari ini. Kami mulai berlari lagi. Mengejar liburan kemarin yakni seminggu. Insya Allah progres terus berjalan," kata Direktur Utama PLN Sofyan Basir, usai acara silaturahmi bersama ratusan karyawan, direksi, hingga mitra bisnis di Lantai 3 Kantor Pusat PLN, Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2015).
Tahap awal, PLN memprioritaskan target penandatanganan perjanjian jual beli tenaga listrik atau Power Purchase Agreement (PPA). Tandatangan PPA ditargetkan bisa dilakukan di penghujung tahun ini. Total pembangkit yang dibidik untuk proses PPA sebesar 10.000 MW-14.000 MW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses berikutnya adalah, melakukan financial closing atau pembiayaan. Pasca financial closing, proyek pembangkit listrik PLN baru bisa dibangun paling lambat awal 2016.
"Habis itu, baru konstruksi mulai berjalan 2,5-3,5 tahun ke depan sampai proses jadi pembangkitnya. Selesai pembangkit itu, akhir 2018 sampai awal 2019," sebutnya.
Untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik baru serta sistem transmisi, PLN akan memperoleh dana dari beberapa sumber seperti pinjaman, suntikan dana pemerintah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN), serta modal sendiri. Untuk pinjaman, PLN memperoleh komitmen pinjaman dari lembaga donor asal China, Jepang, hingga Eropa.
"Kalau pinjaman jangka panjang sudah ada plafon dari China Development Bank (DCB) dan beberapa bank pembangunan di Eropa serta Jepang. Plafon berkisar US$ 1 miliar sampai US$ 3 miliar. Tenor jangka panjang bisa 30 tahun. Kalau CDB 10 tahun," ujarnya.
Sedangkan pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan memberi alokasi PMN sebesar Rp 5 triliun kepada PLN mulai tahun ini. "PLN keluar Rp 5 triliun untuk tahun pertama. Tahun depan kita minta Rp 8 triliun," sebutnya.
(feb/dnl)











































