Sudirman datang sekitar pukul 12.30 WIB. Pertemuan terjadi cukup singkat, yaitu sekitar 30 menit dan berlangsung tertutup di Kantor Presiden.
Sudirman menyampaikan, beberapa waktu lalu saat harga minyak dunia mengalami kenaikan dan nilai tukar rupiah melemah, seharusnya harga BBM jenis Premium dan solar subsidi ikut naik. Namun melihat perkembangan ekonomi, akhirnya harga ditahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (Pertamina) sebetulnya pada waktu harga keekonomian naik, juga harusnya untuk barang bisa menjual harga lebih. Tapi itu kami tahan," ungkap Sudirman, saat meninggalkan Komplek Istana Negara, Jakarta, Senin (27/7/2015)
Sampai dengan pekan lalu, Sudirman mengatakan, kerugian Pertamina akibat hal ini mencapai Rp 12 triliun karena harga Premium dan solar subsidi ditahan atau tidak naik. "Akumulasi kerugian Pertamina, laporan terakhir minggu lalu Rp 12 triliun. Itu akan saya minya untuk terus update," jelasnya.
Saat ini, harga minyak dunia kembali turun, namun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih dalam tren pelemahan. Sudirman mengaku tidak akan terburu-buru menurunkan harga BBM.
"Saya laporkan penurunan harga minyak dunia, sama mudah-mudahan kurs tidak bergejolak. Itu akan kompensasi kerugian Pertamina sampai selesai," tukasnya.
Selain persoalan tersebut, Sudirman juga menyampaikan realisasi saat kegiatan Idul Fitri. Misalnya listrik, pasokan BBM dan elpiji yang dirasakan tidak ada permasalahan serius.
"Selesai lebaran, nggak ada gangguan energi, listrik, BBM lancar elpiji juga tidak ada masalah," pungkasnya.
(mkl/dnl)











































