Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, dampak turunnya harga batu bara paling sampai mengakibatkan perusahaan bangkrut banyak dirasakan perusahaan batu bara yang ada di Sumatera, Jambi hingga Jambi.
"Yah di Sumatera, khusus di Jambi dan Sumatera Selatan, dan wilayah lain di Sumatera Timur banyak yang gulung tikar," ujar Hendra, ditemui di Kantor Dirjen Minerba Kementrian ESDM, Jalan Dr Soepomo, Jakarta Selatan, Rabu (29/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan di sana kalorinya rendah," ujar Hendra.
Kendati demikian, lanjut Hendra, pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlah pasti perusahaan gulung tikar, tapi yang pasti cukup banyak.
"Jumlahnya kita nggak tahu persis, karena itu kan di daerah yah. Yang di data Minerba ESDM kan yang perusahaan PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara) sama PMA (Perusahaan batu bara asing) yang bisa dikontrol, yang di daerah kan ratusan," jelas Hendra.
Menurut Hendra, berhentinya kegiatan pertambangan batu bara ini membuat perusahaan-perusahaan batu bara di 2 provinsi tersebut terpaksa melakukan PHK pada pekerjanya.
"Ada PHK lapornya ke daerah, dan nggak lapor ke sini (Minerba)," katanya.
Hendra mengungkapkan, kualitas batu bara yang rendah membuat harga batu bara asal Sumatra jauh lebih rendah dibandingkan dengan batu bara asal Kalimantan, sehingga membuat industri batu bara di pulau tersebut paling terimbas dampak anjloknya harga batu bara global.
"US$ 58/ton harganya, yang kalorinya 6.300. Kalau yang di bawah, kaya yang 4.000-an yah mungkin tinggal US$ 40/ton, bahkan di bawah itu yang kalorinya rendah. Makin suram saja ini," tutup Hendra.
Sementara itu, mengutip data Kementerian ESDM, harga batu bara dengan kandungan kalori 7.000 ditetapkan seharga US$ 63,75/ton, kalori 6.000 sebesar US$ 58,91/ton, dan sebesar US$ 34,19/ton untuk batubara jenis Ecocoal yang memiliki kalori 4.200.
(rrd/dnl)











































