Dilansir dari CNN, Sabtu (1/8/2105), Chevron, perusahaan minyak asal AS, labanya turun 90% sepanjang kuartal II-2015 menjadi US$ 571 juta, dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 5,7 miliar.
Mengikuti Chevron, laba Exxon Mobil juga turun hingga 50% menjadi US$ 4,2 miliar, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 8,8 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak ahli memprediksi harga minyak tidak akan naik dengan segera. Bahkan di Juli, harga minyak turun ke posisi terendahnya sejak Oktober 2008.
Saat ini, stok minyak dunia melimpah, karena Timur Tengah terus mempompa produksinya, dan Amerika Serikat (AS) juga sedang mengalami booming energi dengan penemuan minyak shale besar-besaran.
Belum lagi bila kesepakatan nuklir Iran dengan AS terjadi. Ini membuat sanksi ekonomi Iran dihapuskan, dan bisa kembali menjual minyaknya di pasar dengan bebas. Iran merupakan negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar nomor 4 di dunia. Pasokan minyak akan bertambah dan harga bakal makin turun.
Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar Exxon turun menjadi nomor 5 di dunia, padahal di 2009 Exxon menjadi perusahaan terbesar pertama di dunia. Sekarang Exxon di bawah Apple, Google, dan Microsoft.
Saham Exxon turun sekitar 20% dalam setahun belakangan ini, sementara Chevron turun 30%.
(dnl/dnl)











































