Keduanya dipertemukan dalam diskusi tentang potensi investasi di sektor energi dengan tema "The 4th U.S. - Indonesia Energy Roundtable," yang digelar di Hotel Sangri-La, Jakarta, Senin (3/8/2015).
Acara tersebut merupakan acara dua tahunan yang digelar selama dua hari berturut-turut mulai 3-4 Agustus 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudirman mengatakan, diskusi difokuskan pada penggalian potensi di sektor energi dari kedua negara. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber energi yang tinggi, AS sangat berperan dalam pengembangan potensi sumber energi tersebut.
"Ini forum yang diselenggarakan setiap 2 tahun, high level dialog antara kedua negara melibatkan baik pemerintah atau pun pebisnis tujuannya untuk terus mengkaji, menggali potensi-potensi untuk kerjasama terutama di bidang investasi bisnis," katanya.
Menurutnya, Indonesia menyadari sepenuhnya, energi merupakan sesuatu yang harus dibangun habis-habisan karena itu merupakan sumber dari pertumbuhan ekonomi.
"Dan kita tahu perusahaan Amerika sangat berperan di sini, karena itu sangat penting bagi Indonesia untuk menggali seluruh potensi agar kerjasama antara Amerika dan Indonesia makin kuat, makin luas," ujar dia.
Sudirman menjelaskan, diskusi antar kedua negara ini nantinya akan berlanjut pada tahap yang lebih tinggi berupa kerjasama di sektor energi.
"Pesan saya adalah bagaimana caranya kita bisa punya landscape baru, bagaimana menjalin kerjasama di antara kedua negara agar situasi berubah, begitu pun dunia migas berubah, itu kan sudah jelas, hari ini migas, besok renewable agenda besar kita ke depan, nanti akan ada diskusi bagaimana mengkonkretkan ke depan, kerjasama ke depan," terang dia.
Namun, Sudirman belum bisa menyatakan langkah kerjasama secara konkret antar kedua negara. Yang pasti, kata dia, selama ini AS memberikan komitmen yang nyata terhadap investasinya di dalam negeri.
"Saya kira sejauh ini perusahaan Amerika memberikan komitmen untuk terus investasi, misalkan kita sering dengar Freeport akan menanamkan dananya sekitar US$ 19-20 miliar, Chevron juga masih terus, kita belum bicara angka tapi semua yang ada di sini saya kira mau meluruskan keberadaan di Indonesia," papar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Jonathan menambahkan, AS tentu ingin terus melakukan kerjasama dengan Indonesia terutama di sektor energi.
"Hari ini memfokuskan gas dan minyak besok akan ke energi terbarukan dan saya sangat senang karena bapak menteri telah hadir hari ini dan kami tadi telah melakukan diskusi-diskusi yang impresif dan sangat informatif dan sangat bernuansa positif dan kami sangat berharap untuk kerjasama lebih erat lagi di masa mendatang," ucap dia.
Jonathan menyebutkan, selama ini perusahaan-perusahaan AS di Indonesia telah banyak memberikan kontribusi terhadap Indonesia.
Jonathan juga menjawab soal permasalahan yang tengah dihadapi Pertamina soal pengelolaan Blok Mahakam.
"Perusahaan-perusahaan AS pastinya bisa berkontribusi dengan baik di pasar Indonesia apabila pemerintah Indonesia masih menginginkan keberadaan di Indonesia yang pasti bisnis Amerika dan pemerintah AS sendiri menghormati demokrasi di Indonesia, menghormati proses yang ada di Indonesia dan kami menunggu bagaimana konklusi dari permasalahan ini dari pihak pemerintah Indonesia," kata Jonathan.
Sudirman juga menanggapi soal kejelasan Blok Mahakam. Menurutnya, apa punyang menjadi kebijakannya diharapkan akan bisa mendorong investasi lebih baik lagi.
"Ada banyak pertanyaan apakah yang terjadi di Mahakam akan jadi pola penyelesaian berbagai expiring blok (habis masa kontrak), jawaban saya selalu tegaskan setiap kasus punya pola sendiri, Mahakam special case karena waktunya sudah mepet dan terlanjur menjadi very political antara blok yang waktunya masih banyak, saya kira akan kita dorong supaya bisnis dialog bisa mengemuka, apa pun koklusinya bisa lebih mengakomodasi dan membuat suasana investasi lebih kondusif," terang dia.
Sudirman menyebutkan, untuk sebuah negara yang tengah berkembang seperti Indonesia, sudah sepatutnya untuk bisa bersikap terhadap siapa pun yang berniat investasi untuk bersama-sama mengembangkan perekonomian masing-masing negara.
"Kami ingin menegaskan bahwa sebuah negara sedang tumbuh ekonominya sudah pasti kita welcome investasi internasional apalagi perusahaan Amerika yang sudah cukup lama ada di sini. Pasti kita akan memberikan perhatian khusus tetapi yang mesti kita sadari adalah kita sedang melakukan adjustment termasuk bagaimana memikirkan bagian dari daerah, itu harus kita dengarkan, itu konsekuensi dari demokrasi, saya kira rekan-rekan kita dari AS paham itu," pungkasnya.
(drk/dnl)











































