Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) saat Rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Januari 2015, yang dikutip detikFinance, sebanyak 45,56% gas bumi yang diproduksi dalam negeri diekspor ke luar negeri.
Sementara industri baru memanfaatkan 19,2% produksi gas dalam negeri, 14,73% untuk listrik, 0,05% untuk transportasi, lebih kecil lagi untuk gas rumah tangga hanya 0,02%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya industri yang bisa hemat, gas bumi bila digunakan untuk transportasi, juga memberikan dampak penghematan yang cukup signifikan. Contohnya saja para sopir bajaj Kobagas, mereka sejak beralih dari bajaj yang pakai bensin ke BBG, penghematan yang didapat mencapai Rp 60.000-80.000 per hari.
Bahkan tidak hanya transportasi, rumah tangga bila beralih dari menggunakan elpiji ke gas bumi bisa hemat sekitar Rp 100.000/bulan. Berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) rata-rata pengeluaran biaya elpiji rumah tangga mencapai Rp 150.000-Rp 200.000/bulan, sementara bila menggunakan gas bumi hanya Rp 70.000 per bulan. Pasalnya biaya gas rumah tangga jauh lebih murah daripada elpiji.
Berikut harga gas bumi ke konsumen di berbagai daerah yang didistribusikan PT PGN (Persero) Tbk:
- Jakarta, sejak Agustus 2007 harganya antara Rp 2.618/m3 sampai Rp 3.141/m3
- Bogor, sejak Agustus 2007 harganya Rp 2.720/m3 sampai Rp 3.263/m3
- Bekasi, sejak Agustus 2007 harganya Rp 2.668/m3 sampai Rp 3.202/m3
- Karawang, sejak 2007 harganya Rp 2.668/m3 sampai Rp 3.202/m3
- Palembang, sejak 2007 harganya Rp 2.259/m3 sampai Rp 2.711/m3
- Surabaya-Gresik harganya Rp 2.496/m3 sampai Rp 2.995/m3











































