Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, penurunan laba ini karena harga bensin premium dijual di bawah harga pasar. Sehingga bisnis hilir migas Pertamina merugi .
"Hilir minyak menggerus laba usaha. Harga jual yang ditetapkan pemerintah tidak mengikuti formula yang memang pernah disepakati semua pihak, tapi itu semua memberi makna bahwa memang pemerintah tidak serta merta mengikuti harga minyak dunia, dan pemerintah memperhatikan masyarakat," kata Dwi dalam paparan Kinerja Pertamina Semester I-2015, di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (5/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam semester satu tentu kita pahami, kami berada dalam situasi gonjang ganjing, di mana dampak terhadap penurunan harga minyak yang cukup besar, membuat kita harus mengambil sikap supaya tetap bertahan," tuturnya.
Dwi mengatakan, pada semester I-2015, pendapatan Pertamina mencapai US$ 21,79 miliar, turun 40,69% dari realisasi pada periode yang sama di tahun lalu.
Sedangkan beban pokok dan beban usaha perusahaan US$ 20,22 miliar, turun 35,2% dibandingkan semester pertama tahun lalu. Sedangkan, EBITDA mencapai US$ 2,32 miliar.
"Sedangkan laba bersih sekitar US$ 0,57 miliar atau US$ 570 juta," tambahnya.
(zul/dnl)











































