"Jujur saja Pertalite ini bisa kurangi kerugian Premium," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang, ditemui di acara Paparan Kinerja Pertamina, di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (5/8/2015).
Bambang mengatakan, pertumbuhan konsumsi Pertalite sejak diluncurkan pada 24 Juli 2015 lalu terus meningkat. Kini pangsa pasarnya mencapai 13,5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan survei, kalau selisih harga Premium dan Pertalite di bawah Rp 900, maka 20-30% konsumsi Premium akan diganti. Sekarang masih di atas," jelasnya.
Meski bisa menutup kerugian dari menjual Premium, dan tren konsumsi masyarakat kini beralih ke Pertalite. Pertamina menyatakan, pihaknya belum bisa menghapus Premium dari SPBU.
"Tapi tidak menghilangkan Premium. Ini pilihan masyarakat," tutupnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, jika target perpindahan konsumsi 30% tersebut tercapai, maka kerugian yang bisa ditutup Pertamina sekitar Rp 3 triliun.
"Mungkin pada level sekarang kita belum bisa untung. Tapi paling tidak kan bisa kurangi kerugian jual Premium. Tapi kalau asumsinya nanti yang pindah sampai 30% ke Pertalite kan kerugian kita bisa berkurang sampai Rp 3 triliunan lah," kata Dwi.
(zul/dnl)











































