Demikian disampaikan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang, di acara Paparan Kinerja Pertamina, di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (5/8/2015).
"Dengan ekonomi melemah, pertumbuhan penjualan mobil pun berkurang. Masyarakat lagi berpikir yang urgent, mau pergi-pergi pikir-pikir, akhirnya konsumsi menurun," tutur Bambang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Premium belum ada yang lain yang jual, Pertamina baru yang jual, itu sudah drop juga. Faktanya turun jauh sekitar 13%. Secara total BBM dibanding tahun lalu turun 7%. Industri juga ada sedikit penurunan," kata Bambang.
Bambang mengatakan, biasanya pertumbuhan konsumsi BBM per tahun mencapai 4%. Namun di tahun ini, rasanya sulit dicapai. Di tahun lalu, konsumsi BBM secara total mencapai 62,39 juta kiloliter (KL).
"Saya harapkan mengejar volume yang 2014 saja. Yang semula kita harapkan naik, kayaknya jadi naik tipis. Kalau bisa nanti realisasi jadi 62,8 juta KL," jelasnya.
Penurunan konsumsi, lanjut Bambang, membuat Pertamina juga menurunkan impor BBM. "Impor turun. Ditekan juga impor solar karena volume kebutuhan turun. Industri banyak pakai gas, berkurang kan" kata Bambang.
"Impor solar 1 juta KL saja nggak ada, tinggal 500 ribuan KL. Premium turun, semula 9-10 juta KL, sekarang tinggal 7-8 juta KL. Itu karena konsumsi turun," jelasnya.
Bambang juga menyebut, turunnya impor BBM juga dipicu kehadiran Pertalite. "Kami juga turun karena Pertalite. Blending HOMC (High Octane Mogas Component)-nya sama Nafta," katanya.
Diketahui, produksi Pertalite dilakukan dengan pencampuran antara HOMC, nafta, dan aditif. Dengan adanya Pertalite, Pertamina dapat mengutilisasi komponen nafta yang selama ini kelebihan pasokan dan diekspor ke luar negeri. Harganya pun dinilai murah.
(zul/dnl)











































