'RI Eksportir Timah Terbesar Dunia, Tapi yang Mainkan Harga Malaysia dan London'

'RI Eksportir Timah Terbesar Dunia, Tapi yang Mainkan Harga Malaysia dan London'

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 06 Agu 2015 20:13 WIB
RI Eksportir Timah Terbesar Dunia, Tapi yang Mainkan Harga Malaysia dan London
Jakarta - Indonesia merupakan negara kaya sumber daya alam (SDA), termasuk tambang. Bahkan negeri ini merupakan eksportir timah nomor satu terbesar di dunia. Namun sayangnya, Indonesia tidak bisa menjadi penentu harga timah dunia.

"Timah nomor satu di dunia kita, tapi yang mainkan harga Malaysia sama London," jelas Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (Iress), Marwan Batubara diskusi soal smelter, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Menurut Marwan, hilirisasi produk tambang lewat pembangunan smelter diperlukan. Sehingga ada nilai tambah yang didapat industri dalam negeri, dan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan program hiliriasi ini, kita harap jadi penentu soal harga dan kuota. Nilai tambah dari hilirisasi minimal 5-25 kali lipat untuk tingkatkan GNP (gross national product)," jelas Marwan.

Karena itu, saat ini pemerintah harus konsisten soal larangan ekspor tambang mentah yang ada dalam UU No.4 Tahun 2009 tentang mineral dan batu bara (minerba). Saat ini memang masih ada kelonggaran untuk izin tambang mentah. Perusahaan tambang masih bisa ekspor tambang mentah dengan membayar bea keluar.

"Meski agak terlambat ada juga positifnya pemerintah kita. Ada 178 IUP (izin usaha pertambangan) yang sudah siap operasi tahap pembangunan smelter, termasuk Freeport," ujar Marwan.

Dia mengatakan, setelah larangan ekspor tambang mentah, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara naik, dari US$ 2,16 miliar di 2013 menjadi US$ 2,7 miliar di 2014.

"Data lagi, berdasarkan kajian ekonomi dan keuangan regional triwulan I-2015 dari Bank Indonesia, setelah ada larangan ekspor ore (bijih/tambang mentah), ekonomi triwulan I di Indonesia timur tumbuh 6,9%, lebih baik dari triwulan IV tahun lalu 5%," katanya.

Pertumbuhan ekonomi ini berasal dari nilai tambah dari pembangunan smelter di Sulawesi Tengah (nikel, feronikel), NTB (tembaga), Papua (Tembaga), Maluku Utara (nikel), Sulawesi Tenggara (nikel).

Bahkan, lanjut Marwan, ekonomi di provinsi Sulawesi Tengah mampu tumbuh 17,6% di kuartal IV-2014 dari periode yang sama tahun sebelumnya 9,51%. Pemicunya, peningkatan nilai kontribusi sektor industri sektor pengolahan seiring beroperasinya pengolahan LNG (gas alam cair) dan smelter.

"Saya juga garis bawahi pernyataan Menteri Perindustrian. Dari 50 juta bijih nikel yang dijual, pendapatan maksimal hanya US$ 2 miliar. Namun dengan 4 juta ore nikel diolah dan dimurnikan di dalam negeri, dihasilkan pendapatan US$ 1 miliar. Dengan nilai investasi sekitar US$ 2 miliar untuk satu smelter, penyerapan tenaga kerja langsung 5.000 orang dan meningkat jadi 12.000 orang setelah pabrik beroperasi," papar Marwan.

(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads