Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana ketika ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, usai mengikuti rapat Dewan Energi Nasional ke-15, Senin (10/8/2015).
"Makanya saya mau cek dulu apa benar Malaysia, tetangga kita akan bangun PLTN di Kalimantan," kata Rida.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebih tragis lagi kalau mereka pakai ahli-ahli nuklir dari kita, kemudian listriknya dijual ke kita," ucapnya.
Melihat kondisi tersebut, Rida mengharapkan wacana Indonesia ingin membangun PLTN terealisasi bukan hanya sekedar wacana.
"Kemudian rancangan PLTN itu ditarik ke ruang publik untuk menjadi bahas diskusi. Pasti akan ada pro dan kontra. Tapi maksud saya ini kan belum apa-apa sudah nggak usah PLTN, (PLTN) itu kan bahaya. Itu yang nggak boleh. Taruh dulu di meja, jadikan bahan untuk dibicarakan secara ilmiah. Jangan dibahas secara emosi atau ketakutan," tegasnya.
Rida mengatakan, bila Indonesia membangun PLTN di Kalimantan, maka selain bisa mencukupi kebutuhan listrik warga di Kalimantan, bahkan bisa menjual (ekspor) listrik ke Malaysia.
"Harusnya kita yang menjual ke mereka (Malaysia). Masak porsi yang sedikit menjual ke porsi yang besar. Logikanya yang besar menjual ke yang sedikit dong. Hanya saja masalah nuklir itu untuk kalangan kita," katanya.
Apalagi berdasarkan survei yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menerima keberadaan PLTN.
"Pembangunan PLTN paling cepat 10 tahun. 10 tahun pun dipandang sesuatu yang ambisius. Kami, dari saya terutama menempatkan PLTN itu di meja untuk didiskusikan sama-sama itu, jangan sampai setelah waktunya mepet kemudian baru membicarakannya. Padahal waktunya sudah telat. Coba Vietnam bangun, Malaysia bangun. Coba kita ini, termasuk 10 negara terbesar di dunia, tapi satu-satunya yang belum bangun PLTN," tutup Rida.
(rrd/hen)











































