Butuh Banyak Listrik, Bali Buka Pintu Lebar Untuk Investor

Butuh Banyak Listrik, Bali Buka Pintu Lebar Untuk Investor

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 11 Agu 2015 16:48 WIB
Butuh Banyak Listrik, Bali Buka Pintu Lebar Untuk Investor
Buleleng -

Luas Pulau Bali mencapai 5.600 km persegi dengan penduduk sejumlah 4,2 juta jiwa, setiap tahun dikunjungi oleh 4 juta orang wisatawan asing dan 7 juta wisatawan domestik. Hal ini membuat Bali harus memacu pembangunannya dengan cepat karena kebutuhan yang begitu besar, tak terkecuali di bidang energi.

Asisten Provinsi Bali Bidang Ekonomi dan Pembangunan, I Ketut Wija menuturkan, bahwa kebutuhan listrik di Bali meningkat pesat setiap tahun. Diperkirakan kebutuhan listrik di Bali bakal bertambah hingga 3 ribu megawatt (MW) dalam sepuluh tahun. Karena itu, pihaknya membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi para investor untuk membangun pembangkit listrik di Bali.

"Melihat perkembangan ke depan, kita butuh listrik dua kali lipat dari saat ini. Dalam 10 tahun ke depan kita butuh 3 ribu MW untuk pembangunan Bali. Oleh sebab itu, Bali memberi kesempatan ke investor untuk membangun pembangkit di Bali asalkan memenuhi persyaratan," kata Ketut dalam sambutannya saat peresmian PLTU Celukan Bawang di Buleleng, Bali, Selasa (11/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, kapasitas terpasang listrik di Bali 785 MW, bersumber dari pembangkit listrik Sangaran sebanyak 370 MW, pembangkit di Gilimanuk 130 MW, pembangkit di Pemaro 80 MW, dan dari kabel bawah laut dari Jawa sebesar 340 MW. Ditambah dari PLTU Celukan Bawang maka kapasitas terpasang menjadi 1.300 MW.

Dia berharap pembangunan PLTU Celukan Bawang yang berkapasitas 3 x 142 MW diikuti oleh pembangkit-pembangkit baru lainnya sehingga suatu saat Bali tak hanya bebas dari krisis listrik, tidak bergantung pada pasokan dari Pulau Jawa, tapi juga mampu memasok listrik ke pulau lain.

"Target kita kemandirian energi sehingga tak tergantung pasokan dari luar Bali, bahkan kalau bisa kita ekspor ke luar Bali," tandasnya.

Ketut melanjutkan, Bali akan lebih mengutamakan pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan, tak lagi menggunakan sumber energi primer. Selain lebih boros, energi primer juga tidak ramah lingkungan sehingga dapat mencemari Bali yang merupakan salah satu destinasi wisata utama di dunia.

"Arah kita menggunakan energi baru terbarukan untuk mewujudkan Bali Green Province," tutupnya.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads