Tak Hanya Rusia, China Ingin Bangun PLTN ke Indonesia

Tak Hanya Rusia, China Ingin Bangun PLTN ke Indonesia

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 12 Agu 2015 06:41 WIB
Tak Hanya Rusia, China Ingin Bangun PLTN ke Indonesia
Foto: Ilustrasi
Buleleng - Tak hanya Rusia, rupanya China juga berminat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Pemerintah China menyatakan, teknologi nuklir yang dimilikinya sudah tergolong tinggi, tak kalah dari negara-negara lain. Di China, sudah banyak kontraktor yang memiliki kemampuan handal untuk menggarap proyek PLTN. Karena itu, China siap ikut serta membantu bila Indonesia ingin membangun PLTN.

"Kami sudah sangat matang dalam pembangunan PLTN. Apabila Indonesia ingin mendirikan PLTN, China akan sangat tertarik untuk membantunya," kata Minister Counsulor for Economic and Business Chinese Embassy, Wang Liping, usai peresmian PLTU Celukan Bawang di Buleleng, Bali, Selasa (11/8/2015).

Wang meminta pemerintah Indonesia untuk segera memberitahukan kepada pemerintah China, jika ada rencana serius untuk pembangunan PLTN. "Alangkah baiknya kalau informasi-informasi seperti ini disampaikan pada China agar kami tahu dan bisa ikut serta dalam proyek," ucapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, defisit pasokan listrik di sejumlah wilayah Indonesia menjadikan pemerintah terus mendorong peningkatan penggunaan sumber energi baru terbarukan. Salah satu yang saat ini diwacanakan adalah penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik.

Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Rida Mulyana mengungkapkan, meski pengembangan nuklir sebagai sumber energi masih dalam tahap perencanaan jangka panjang, namun saat ini sudah banyak negara yang menawarkan untuk bekerjasama dalam pengembangan PLTN.

"Banyak yang sudah menawarkan, yang paling agresif negara yang datang ke kita itu Rusiaโ€Ž," kata Rida.

Dijelaskan Rida, Rusia telah menawarkan paket pengembangan nuklir menjadi pembangkit listrik mulai dari pendidikan sumber daya manusia, cara pengelolaan, perawatan hingga pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

Selain Rusia, Iran juga menjadi negara kedua yang menyatakan minat untuk menjadi mitra Indonesia dalam mengembangkan nuklir. Namun untuk Iran, masih dalam tahap pembicaraan secara lisan. "Kalau Iran masih dalam taraf ngobrol-ngobrol biasa saja, belum yang signing-signing begitu," tegas dia.

Isu mengenai nuklir ini kembali mencuat, setelah adanya rencana Malaysia untuk membangun PLTN di perbatasan Malaysia-Indonesia yang berada di Pulau Kalimantan.

Menurut Rida, dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, Indonesia memang sedikit tertinggal dalam hal pengembangan nuklir sebagai sumber energi. Selama Ini pengembangan nuklir indonesia masih dalam tahap penelitian dan produksinya juga digunakan untuk hal kesehatan.

Untuk itu, saat ini pihaknya lebih menyerahkan isu mengenai pentingnya pembangunan PLTN ini di masyarakat mengingat saat ini pemerintah masih terfokus dalam memaksimalkan penggunaan energi ramah lingkungan, seperti panas bumi, angin, gas alam, dan lain sebagainya.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads