Nuklir Masih Dianggap Tabu, ESDM Akan Luncurkan 'Buku Putih'

Nuklir Masih Dianggap Tabu, ESDM Akan Luncurkan 'Buku Putih'

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 14 Agu 2015 19:17 WIB
Nuklir Masih Dianggap Tabu, ESDM Akan Luncurkan Buku Putih
Jakarta - Kementerian ESDM akan menerbitkan 'buku putih' kebijakan nuklir, untuk menyebarkan data dan fakta terkait nuklir kepada masyarakat. Buku putih tersebut sedang dicetak.

Namun, penerbitan buku putih ini baru sekedar untuk menyebarluaskan wacana, sebab pemerintah masih belum memutuskan apakah akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Buku putih sekarang sedang dicetak. Tapi jangan serta merta diartikan bahwa pemerintah sudah memutuskan. Buku putih itu hanya sekedar media untuk bahan kita berdiskusi, saat kita menentukan pembangunan PLTN akan dilaksanakan atau tidak," kata Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana, usai acara Energius Day 2015 di Umar Ismail Hall Theatre, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan adanya buku putih, Rida berharap masyarakat mau membuka diri untuk mempertimbangkan pembangunan PLTN dengan akal sehat, bukan dengan prasangka-prasangka buruk. "Buku putih ini akan menjadi bahan saat wacana PLTN dibawa ke ranah publik. Mari kita kaji, kita bicarakan dengan logika dan data," ujarnya.

Penerbitan buku putih nuklir, dia melanjutkan, akan membuka mata masyarakat terkait fakta-fakta tentang nuklir, sehingga nuklir tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang tabu, bahkan untuk sekedar didiskusikan. "Ini untuk memicu agar pembicaraan PLTN tidak menjadi tabu. Kalau sekarang kan ditabukan," tuturnya.

Dari hasil diskusi luas di masyarakat pasca meluasnya wacana pembangunan PLTN ini nantinya pemerintah akan mengambil keputusan final, apakah pembangunan PLTN akan dilaksanakan atau tidak. "Kita putuskan untuk kepentingan negara ini," tandasnya.

Sebagai informasi, defisit pasokan listrik di sejumlah wilayah Indonesia menjadikan pemerintah terus mendorong peningkatan penggunaan sumber energi baru terbarukan. Salah satu yang saat ini diwacanakan adalah penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik.

Meski pengembangan nuklir sebagai sumber energi masih dalam tahap perencanaan jangka panjang, namun saat ini sudah banyak negara yang menawarkan untuk bekerjasama dalam pengembangan PLTN. "Banyak yang sudah menawarkan, yang paling agresif negara yang datang ke kita itu Rusiaโ€Ž," kata Rida.

Dijelaskan Rida, Rusia telah menawarkan paket pengembangan nuklir menjadi pembangkit listrik, mulai dari pendidikan sumber daya manusia, cara pengelolaan, perawatan hingga pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

Selain Rusia, Iran juga menjadi negara kedua yang menyatakan minat untuk menjadi mitra Indonesia dalam mengembangkan nuklir. Namun untuk Iran, masih dalam tahap pembicaraan secara lisan. "Kalau Iran masih dalam taraf ngobrol-ngobrol biasa saja, belum yang signing-signing begitu," tegas dia.

Isu mengenai nuklir ini kembali mencuat, setelah adanya rencana Malaysia untuk membangun PLTN di perbatasan Malaysia-Indonesia yang berada di Pulau Kalimantan.

Menurut Rida, dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, Indonesia memang sedikit tertinggal dalam hal pengembangan nuklir sebagai sumber energi. Selama Ini pengembangan nuklir indonesia masih dalam tahap penelitian dan produksinya juga digunakan untuk hal kesehatan.

Untuk itu, saat ini pihaknya lebih menyerahkan isu mengenai pentingnya pembangunan PLTN ini di masyarakat mengingat saat ini pemerintah masih terfokus dalam memaksimalkan penggunaan energi ramah lingkungan, seperti panas bumi, angin, gas alam, dan lain sebagainya.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads