Gerobak dagang tenaga surya atau 'Gatsu' ini buah dari ide kreatif mahasiswa di jurusan Teknik Elektro STT PLN Cengkareng. Sama seperti gerobak kaki lima yang terbuat dari stainless pada umumnya, hanya yang membedakan yaitu ada 2 papan panel surya terpasang di atap gerobak.
"Gatsu Ini singkatan dari gerobak dagang tenaga surya. Di atap gerobak terpasang 2 panel dengan daya masing-masing 60 Wp jadi total 120 Wp. Bisa buat hidupkan blender, lampu, pemanas air, dan charge handphone," jelas Bagas, Mahasiswa STT-PLN yang masih duduk di bangku Semester V ini di kepada detikFinance di sela-sela pameran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yazim menjelaskan, butuh waktu 3 bulan bagi timnya untuk merakit Gatsu sampai akhirnya berhasil pada April 2015. "Kita akan launching akhir Agustus ini. Kami rancang 3 bulan dan berhasil bulan April kemarin," tambahnya.
Yazim dan teman-teman pun sudah sering memakai Gatsu. Sambil menyelam minum air, sambil jualan dapat untung bisa kampanye listrik tenaga surya.
"Sudah pernah dicoba jualan jus dan milkshake dipinjamkan ke penjual di kampus. Bulan puasa kemarin kita pakai sendiri untuk berjualan. Kita sampai tambah running teks pakai LED biar menarik. Sekaligus mengenalkan Gatsu ini, sekalian kampanye energi baru terbarukan juga," jelasnya.
Yazim mengaku, baru membuat 1 unit Gatsu dan harapannya bisa berkembang direplikasi secara masal. "Kita baru buat 1 unit. Inginnya ada pengembangan terus. Ibarat android ini OS 1.0 masih ada pengembangan-pengembangan lagi. Kami baru memenangkan kompetisi tingkat perguruan tinggi swasta di Jakarta harapannya bisa dipatenkan lalu bisa dibuat massal Gatsu ini. Inginnya dijual resmi ada brandnya gitu," ujarnya.
Bagas menjelaskan lebih lanjut tentang cara kerja Gatsu. Dimulai dari tenaga surya yang terkumpul dari panel surya mengalir melalui kabel yang dihubungkan ke baterai kapasitas 100 Ah. "Kami pakai inverter buat jadi arus bolak balik 700 watt. Kalau dipakai untuk lampu 10 watt berarti bisa untuk 70 lampu. Listrik dari baterai ini sudah bisa dipakai untuk menghidupkan blender, pemanas air, dan lainnya," tuturnya.
Bagas mengakui memang secara ekonomis harga gerobak tergolong mahal. Tapi menurutnya, ukuran mahal tidak bisa dipakai untuk aplikasi energi baru terbarukan karena memang skalanya kecil dan perlu beberapa alat pendukung.
"Memang mahal untuk sebuah Gatsu ini kita jual Rp 11-15 juta. Itu sudah termasuk panel, inverter, beserta gerobaknya tentu. Harga gerobaknya sendiri bervariasi tergantung desain dan ukuran. Gerobaknya saja Rp 4-5 juta. Dan ini kan hanya sekali beli, tahan bertahun-tahun. Hanya perlu ganti baterai setelah 2-3 tahun. Listriknya gratis terus setelah itu," ujarnya.
Menurut Bagas, selain menghemat biaya, pedagang tidak perlu bingung mencari lokasi berjualan. "Hemat biaya listrik, aman dan nggak perlu sampai asal sambung kabel-kabel PLN kan bahaya. Memang untuk mengaplikasikan energi baru terbarukan masih butuh modal besar, tapi harus dimulai sekarang dari langkah kecil," tutupnya.
(rrd/rrd)











































