Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Benny Soetrisno, di acara Gas Forum Indonesian Gas Society, di The Ritz Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
"Sampai hari ini kita pengusaha berjuang terus agar kita bisa dapat gas. Gas yang ada itu merupakan hibah Tuhan pada republik ini, tapi masalah gas kita, sudah susah dapatnya, harganya mahal. Padahal gas kita banyak," ungkap Benny.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri pemakai gas banyak sekali seperti Chemical, keramik, besi, pupuk, tekstil semua butuh gas. Gas ini banyak wilayah Indonesia, tapi kita kurang gas. Masalahnya ada di infrastruktur distribusi gas sampai saat ini jadi persoalan berat dan klasik," ungkapnya lagi.
Benny menambahkan, sebagai pengusaha tentunya gas bumi menjadi pilihan utama karena harganya lebih murah dan bersih dibandingkan energi lain seperti BBM, dan batu bara. Pada 3 tahun lalu Benny investasi mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dengan harapan listriknya bisa memasok pabrik tekstilnya di Semarang. Namun, PLTG sudah selesai, gas bumi tak pernah datang.
"Saya sendiri sebagai pengusaha punya pengalaman buruk sama kebijakan gas pemerintah. Dulu saya bangun pembangkit listrik dari gas untuk pabrik tekstil saya di Ungaran Semarang. Saya bangun pembangkit listrik kerena dengar ada gas akan sampai di Ungaran dalam 3 tahun, saya bangun sampai 50 megawatt (MW) untuk tunjang industri saya, ternyata sampai sekarang nggak ada gasnya. Belum juga sampai ke Semarang, akhirnya pembangkitnya jadi nggak dipakai," tutupnya.
Berdasarkan data Indonesia Gas Society 2014, kebutuhan gas manufaktur ada di 15 provinsi. Tapi, 2015, antara kebutuhan dan sumber gas yang didistribusikan lebih sedikit dari pada yang dibutuhkan.
"Selain itu, harga gas masih mahal, gas kita harganya rata-rata US$ 9,3 per mmbtu, jadi lebih mahal dari negara tetangga. Gas kita lebih banyak harusnya lebih murah," tutup Benny.
(rrd/hen)











































