Industri dalam negeri sebagai konsumen mengeluhkan mahalnya harga gas bumi yang dibelinya, rata-rata US$ 9,3 per Juta British Thermal Unit (mmbtu). Perbedaan harga gas dari produsen hingga ke tangan industri bisa mencapai 100% lebih, setelah lewat trader.
Angka ini jauh lebih mahal dibandingkan harga gas di Singapura, Malaysia dan negara lainnya. Padahal Indonesia merupakan salah satu produsen gas bumi terbesar di dunia.
Vice President Commercial ConocoPhillips, Taufik Ahmad mengatakan, pihaknya tidak mengetahui mengapa industri bisa membayar gas jauh lebih mahal. Padahal harga gas yang mereka jual ke perusahaan trader hanya sekitar US$ 4 per mmbtu, di industri mencapai US$ 9-10 per mmbtu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, masih banyak persepsi bahwa perusahaan hulu migas seperti ConocoPhillips meraup untung besar karena menjual gas dengan harga tinggi. Padahal sebenarnya biaya eksplorasi dan eksploitasi sangat besar dengan risiko kegagalan yang juga tinggi.
"Di Indonesia kita punya (mengelola) 20 blok gas, tapi yang bisa diproduksi cuma 2 blok," kata Taufik.
Apalagi banyak stigma negatif, di mana produksi gas selalu dijual ke luar negeri. Seperti yang dilakukan ConocoPhillips, perusahaan asal Amerika Serikat yang menjual produksi gasnya dari Blok Corridor, di Sumatera Selatan ke Singapura melalui pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).
"Misalnya begini, ketika cadangan gas ditemukan, pasar dalam negeri itu belum bisa menyerap gas yang akan kita produksi. Kemudian di sisi lain, infrastruktur kita (pipa gas atau kilang LNG atau kapal LNG) juga belum ada. Tapi saya juga akui memang dalam kontrak penjualan umumnya itu jangka panjang. Kontrak gas itu dari 15-30 tahun kontrak penjualannya," ungka Taufik.
Selain itu, tantangan lainnya, eksplorasi gas di Indonesia berada di wilayah sulit, terutama di laut dalam.
"Sekarang nggak ada lagi gas yang ditemukan di permukaan yang cost-nya rendah. Apalagi yang di wilayah barat Indonesia. Sekarang gas banyak di timur yang biayanya lebih mahal," jelasnya.
Apalagi, butuh waktu lama sekitar 15 tahun dari mememukan candangan hingga berhasil memproduksi gas atau minyak bumi di Indonesia. Salah satu penyebabnya karena adanya 300 perizinan yang harus dipenuhi dan membutuhkan waktu, di tambah lagi otonomi daerah yang menambah tantangan bagi industri hulu migas.
"Di negara lain kegiatan eksplorasi didorong, dikasih karpet merah. Pengelolaan gas kita harus punya benchmark ke negara-negara lain," tutupnya.
(rrd/hen)











































