Baru 2 poin yang selesai dibahas yaitu ICP dan target lifting rapat kemudian diskors (tunda).
Pembahasan mulai muncul opsi diskors ketika muncul perbedaan data yang dipaparkan Kementerian ESDM dengan data bahan yang diterima anggota DPR. Pada bahan rapat tercatat realisasi volume BBM minyak solar bersubsidi sampai 21 Agustus 2015 yaitu 5,65 juta kiloliter (KL) berbeda dengan paparan yang disampaikan Menteri ESDM Sudirman Said yaitu 8,76 juta KL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri ESDM Sudirman Said kemudian menginterupsi rapat dan menyampaikan ada perbedaan data. "Interupsi pimpinan, kami mohon maaf ada perbedaan data yang di slide dengan bahan. Yang betul volume BBM minyak solar 8,67 juta KL," ujar Sudirman.
Selain kesalahan data, salah seorang anggota komisi VII berpendapat perlu dikaji kembali volume bbm bersubsidi termasuk subsidinya sebab sangat tergantung ICP dan kondisi rupiah.
"Volume ini kan sangat tergantung berapa ICP dan kondisi rupiah. Lalu soal subsidi, kita perlu kaji lagi. Subsidi itu kan diperlukan suatu saat realita ada kenaikan crude oil nanti dipersiapkan ruang untuk subsidi. Sekarang ICP diasumsi turun, kan tidak perlu subsidi," kata Anggota Komisi VII dari Fraksi Gerindra, Ramson Siagian.
Pimpinan rapat Kardaya Warnika pun merespon usulan beberapa anggota dewan untuk skorsing rapat sebab ada perbedaan data, subsidi minyak solar dan data biosolar perlu disiapkan kembali bahan paparannya oleh Kementerian ESDM.
"Ini sepertinya perlu dipersiapkan kembali paparannya oleh Kementerian ESDM. Terkait biosolar juga kami ingin lihat datanya. Tadi ada masukan juga subsidi solar perlu dikaji ulang mengingat harga minyak sedang turun. Kita skorsing untuk kembali dibahas besok," tutup Kardaya.
(rrd/rrd)











































