Saat meresmikan proyek ini, di depan para menteri dan pejabat daerah lainnya, Jokowi memberikan sindiran cukup keras terhadap proyek ini. Ia mengingatkan, agar pasca groundbreaking hari ini, proses konstruksi terus berlanjut agar tak berhenti.
"Tidak boleh, setelah ramai-ramai lalu pekerjaannya tidak ada," tegas Jokowi di tepi Pantai Batang yang lokasinya 2 jam dari Semarang, Jumat (28/8/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi berjanji terus memantau, bahkan melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan proyek tetap berjalan. Proyek ini sangat penting agar Jawa dan Bali terhindar dari krisis listrik di 2018.
"Saya akan mendadak jalan ke sini untuk pantau jalan atau nggak. Tadi sudah menyanggupi kalau proyek ini tidak selesai 60 bulan tetapi 50 bulan sehingga tahun 2018 selesai," tegas Jokowi.
Ia menegaskan, untuk mencapai proses groundbreaking hari ini, Jokowi berkali-kali terus mendorong pihak-pihak terkait termasuk pemerintah daerah Kabupaten Batang, PLN agar mempercepat realisasi proyek.
"Setiap proses, progres, kemajuannya dilihat, semua harus dikerjakan seperti itu. Saya nggak tahu sudah berapa kali telepon pak bupati. Kalau Pak Dirut PLN saya telepon setiap hari," katanya.
PLTU berdiri di atas lahan seluas 226 hektar di 3 desa, yakni Ujungnegoro, Karanggeneng, dan Ponowareng, Batang, Jawa Tengah. Kebutuhan dana investasi untuk membangun PLTU ini diperkirakan mencapai US$ 4 miliar, atau Rp 56 triliun.
(hen/hen)











































