Pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat (AS) pagi ini, baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk membentuk Power Working Group dalam rangka mendukung program pembangunan listrik 35.000 megawatt (MW).
Nota kesepahaman antar pemerintah ini, membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perusahaan asal AS untuk ikut dalam lelang proyek-proyek pembangkit listrik di Indonesia. Total ada 52 perusahaan swasta dan 11 agensi dari AS yang tertarik untuk mengikuti lelang proyek listrik 35.000 MW.
Proyek mana yang diincar oleh Negeri Paman Sam ini?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, AS pasti mengincar proyek-proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan. Negara adidaya tersebut memiliki kebijakan untuk tidak membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar batu bara, sebab tingkat polusinya amat tinggi.
"AS pasti nggak mau yang batubara, pasti mereka menargetkan gas dan energi terbarukan. Buat mereka masalah kebijakan saja, bukan teknologinya," kata Amin usai penandatanganan nota kesepahaman di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2015).
Dia mengungkapkan, AS kini mulai giat menggarap proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia. PLN pun sudah mulai menyepakati pembelian tenaga (power purchase agreement/PPA) listrik dari energi terbarukan yang dikembangkan AS.
"Salah satunya yang ditandatangani kemarin di Indo EBTKE Conex 2 minggu lalu, itu kan dari AS," tuturnya.
Dengan amat banyaknya PLTG dan pembangkit-pembangkit dari energi terbarukan seperti panas bumi, air, angin, mikro hidro, biomassa, dan sebagainya yang akan dibangun di Indonesia, sangat banyak kesempatan terbuka untuk perusahaan-perusahaan asal AS.
"Masih ada banyak ruang untuk AS, tinggal kompetisi harganya saja," ucapnya.
Sejauh ini, kata Amin, AS memiliki rekam jejak yang bagus dalam bisnis ketenagalistrikan di Indonesia. Keunggulan mereka adalah teknologinya yang tinggi. Perusahaan-perusahaan asal AS sangat dominan di bidang teknologi PLTG, misalnya General Electric (GE).
"Rekam jejak mereka bagus. GE itu besar sekali kontribusinya, banyak sekali pembangkit-pembangkit gas kita pakai teknologi mereka," pungkasnya.
(rrd/rrd)











































